Zahid Rafiq
16 Juni 2018•Update: 17 Juni 2018
Zahid Rafiq
SRINAGAR, Jammu and Kashmir
Ribuan orang pada hari Jumat mengirimkan doa untuk wartawan veteran Kashmir Shujaat Bukhari yang ditembak mati pada Kamis malam oleh orang-orang bersenjata tak dikenal di ibu kota Jammu dan Kashmir, Srinagar. Dua polisi yang menjaga Bukhari juga tewas dalam serangan itu.
Bukhari, 50, dimakamkan di kota kelahirannya di Kreeri di Kashmir utara pada hari Jumat.
Bukhari adalah pemilik dan pemimpin redaksi harian Rising Kashmir dan tiga media publikasi lainnya. Dia juga bagian dari diplomasi Jalur II antara India dan Pakistan atas resolusi sengketa Kashmir dan prevalensi perdamaian di wilayah tersebut.
Bukhari ditembak mati di Srinagar's Press Enclave pada Kamis malam ketika dia masuk ke dalam mobilnya. Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, namun polisi menyalahkan kelompok militan untuk insiden tersebut dan membalas mengutuk pembunuhan itu dengan menyebutnya sebagai "pekerjaan lembaga-lembaga India".
Sementara itu, polisi juga merilis foto tiga pria muda dengan sepeda motor sebagai tersangka atas pembunuhan itu. Namun tak satu pun dari mereka yang telah diidentifikasi sejauh ini.
Sebelumnya Bukhari dilaporkan pernah mengalami serangan pada tahun 2000, yang mana setelah itu ia diberi keamanan oleh pemerintah negara bagian.
Kashmir, wilayah Himalaya mayoritas Muslim, dipegang oleh India dan Pakistan dalam beberapa bagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh. Sepotong kecil wilayah Kashmir juga dipegang oleh China.
Sejak dipisahkan pada 1947, kedua negara telah berperang selama tiga kali yakni pada tahun 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya memperebutkan Kashmir.
Begitupun, di gletser Siachen di Kashmir utara, pasukan India dan Pakistan telah beberapa kali berjuang sejak tahun 1984. Gencatan senjata mulai berlaku pada tahun 2003 silam.
Beberapa kelompok Kashmir di Jammu dan Kashmir telah berperang melawan kekuasaan India untuk kemerdekaan, ataupun untuk bersatu dengan negara tetangga Pakistan.
Menurut beberapa organisasi hak asasi manusia, ribuan orang dilaporkan tewas dalam konflik di wilayah itu sejak tahun 1989.