elena Teslova
08 Oktober 2021•Update: 12 Oktober 2021
MOSKOW
Rusia "bertekad" untuk melanjutkan kerja sama yang erat dan terkoordinasi dengan Turki melalui jalur diplomatik dan militer untuk sepenuhnya menormalkan kondisi di Suriah, kata Kementerian Luar Negeri negara itu pada Kamis.
Pemukiman Suriah secara tradisional menempati salah satu tempat sentral dalam dialog antara Moskow dan Ankara, kata Maria Zakharova, Juru Bicara Kementrian Luar Negeri Rusia, pada konferensi pers di Moskow.
“Secara khusus, kita berbicara tentang situasi di timur laut negara itu, provinsi Idlib,” yang berada dalam zona de-eskalasi yang dibuat berdasarkan perjanjian antara Turki dan Rusia pada Maret 2020.
Zakharova mengingatkan bahwa kedua negara adalah pemrakarsa dan anggota format Astana (negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri krisis Suriah), menekankan bahwa mereka “bertekad kuat untuk terus berkontribusi pada kemajuan proses politik di Suriah” berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB.
Dia menyambut “awal dari pasokan kemanusiaan ke Idlib melalui jalur kontak sesuai dengan Resolusi nomor 2585 Dewan Keamanan PBB dan norma-norma hukum humaniter internasional.”
Perang saudara Suriah dimulai pada 2011 dengan demonstrasi damai melawan Bashar al-Assad yang ditekan dengan kekuatan brutal oleh rezimnya.
Menurut kepala hak asasi manusia PBB, lebih dari 350.000 orang telah tewas dalam lebih dari 10 tahun konflik di Suriah.
Lebih dari 6,6 juta warga Suriah juga terpaksa meninggalkan negara itu selama satu dekade terakhir.
Turki telah menampung sekitar 3,7 juta dari orang-orang ini – lebih banyak dari negara lain mana pun di dunia.