Hayati Nupus
11 Mei 2018•Update: 07 Juni 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Puluhan ribu massa peserta aksi Indonesia Bela Al-Quds menggelar sajadah di lapangan Monumen Nasional, Jakarta. Mereka mengakhiri aksi membela Palestina ini dengan salat Jumat dan berdoa bersama.
Sebelumnya, mereka berorasi mendesak agar Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem pada 14 Mei mendatang.
Para peserta aksi mengibarkan bendera merah putih dan bendera Palestina. Kompak, mereka mengepalkan tangan kiri ke atas sambil menyanyikan lagu Aksi Bela Islam.
Ketua Komite Al-Quds Ahmad Umar El-Umari yang berasal dari Palestina dalam orasinya mengatakan bahwa pesan peserta aksi di lapangan Monumen Nasional hari ini akan ia sampaikan kepada kaum Muslim di Palestina dan negara Islam lainnya.
“Agar mereka sadar dan merasa bahwa sesungguhnya mereka tidak sendirian menghadapi penjajah Zionis,” ujar Umar dalam orasinya.
Umar menyampaikan bahwa rencana Amerika Serikat untuk menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Palestina adalah salah. “Dan kami umat Islam akan merebut kembali Baitul Maqdis,” kata Umar.
Umar juga mengatakan bahwa warga Palestina memprioritaskan Al-Aqsa ketimbang harta bahkan keluarga mereka. Dia juga sekaligus mengajak agar masyarakat Indonesia bersama bangsa Palestina terus mengupayakan kemerdekaan Al-Quds.
Hari ini, puluhan ribu masyarakat Indonesia melakukan aksi demonstrasi untuk mengecam keputusan Presiden Donald Trump memindahkan kedutaan besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Aksi dimulai dengan salat Subuh dan berdoa bersama di Masjid Istiqlal, lalu massa berarak ke lapangan Monumen Nasional untuk menyampaikan orasi dan diakhiri dengan salat Jumat bersama.
Aksi ini juga dihadiri oleh mantan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nurwahid dan Gubernur Jakarta Anies Baswedan.
Desember lalu, Donald Trump mengumumkan bahwa negaranya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memindahkan kedutaannya ke Yerusalem - keputusan yang dikecam oleh negara-negara Arab dan Muslim.
Pada 21 Desember, Majelis Umum PBB - dalam sebuah gerakan yang disponsori oleh Turki - mengadopsi resolusi untuk menolak keputusan Trump. Resolusi itu didukung oleh 128 negara dan ditolak oleh sembilan negara, sementara 35 negara lain memilih abstain.