Muhammad Abdullah Azzam
05 Februari 2021•Update: 05 Februari 2021
Rabia Iclal Turan
ANKARA
Sekretaris jenderal NATO Jens Stoltenberg pada Kamis mengatakan bahwa kehadiran aliansi di Afghanistan merupakan keputusan yang harus dibuat dengan bersama-sama.
Berbicara pada konferensi pers bersama Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo, Sekjen NATO mengatakan akan ada "biaya dan tantangan" yang menyertai, apa pun keputusan NATO di Afghanistan.
"Jika kita memutuskan untuk pergi, kita berisiko membahayakan proses perdamaian, kita berisiko kehilangan keuntungan yang diperoleh dalam perang melawan terorisme internasional selama beberapa tahun terakhir, dan Afghanistan berisiko menjadi tempat berlindung yang aman bagi teroris internasional," kata dia kepada wartawan di Brussel.
Stoltenberg menambahkan bahwa jika NATO memutuskan untuk tetap tinggal, akan ada risiko peningkatan kekerasan terhadap pasukan asing di negara yang dilanda perang itu.
"Jadi pesan saya kepada semua sekutu NATO adalah bahwa apapun yang kami putuskan perlu kami lakukan bersama," ujar Stoltenberg.
“Kami pergi ke Afghanistan bersama. Kita harus menyesuaikan kehadiran kita di sana bersama. Dan jika waktunya tepat kita harus pergi bersama," tekan dia.
Stoltenberg juga meminta Taliban untuk tetap pada komitmen mereka, termasuk memutuskan semua hubungan dengan teroris internasional, termasuk al-Qaeda, dan mengurangi aksi kekerasan.
Mantan presiden AS Donald Trump telah mengurangi jumlah pasukan AS secara signifikan di Afghanistan, tetapi pemerintahan Biden yang baru mengatakan pihaknya berencana untuk meninjau kembali perjanjian AS-Taliban yang ditandatangani tahun lalu.
Perjanjian tersebut meminta semua pasukan internasional untuk menarik diri dengan imbalan jaminan keamanan oleh Taliban.
Kehadiran NATO di Afghanistan akan dibahas dalam pertemuan para menteri pertahanan akhir bulan ini.