Rhany Chairunissa Rufinaldo
12 September 2018•Update: 13 September 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan Selasa, "sangat penting" untuk menghindari serangan militer besar-besaran di provinsi Idlib, barat laut Suriah.
"Ini akan menjadi mimpi buruk bagi kemanusiaan, tidak seperti yang terlihat sebelumnya dalam konflik Suriah yang dipenuhi darah," kata Guterres kepada wartawan di markas besar PBB New York. "Jangan sampai berubah menjadi mandi darah."
PBB memperingatkan pada Senin, setidaknya 30.000 warga di Idlib telah mengungsi dalam sembilan hari pertama bulan September di tengah kampanye udara Rusia dan rezim Suriah.
Guterres mengatakan setengah dari 2,9 juta orang yang tinggal di Idlib datang ke provinsi barat laut itu setelah melarikan diri dari tempat-tempat lain di Suriah.
"Hampir 1 juta anak-anak termasuk di antara para pengungsi. Hidup mereka telah dirubah dan mereka tidak punya tempat untuk pergi," katanya.
"Saya mengerti bahwa situasi sekarang di Idlib tidak berkelanjutan dan kehadiran kelompok-kelompok teroris tidak dapat ditoleransi. Tetapi memerangi terorisme tidak mengesampingkan pihak-pihak yang bertikai dari kewajiban inti mereka di bawah hukum internasional."
Guterres mencoba menarik perhatian Turki, Iran dan Rusia yang dikenal sebagai penjamin proses Astana.
Dia mengatakan "Anda harus 'berusaha sekeras mungkin untuk menemukan solusi yang dapat melindungi warga sipil. Pertahankan layanan dasar dan rumah sakit. Memastikan penghormatan penuh untuk hukum humaniter internasional".
"Menurut saya, sangat penting bagi Rusia, Iran, Turki, dan negara-negara lain yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam situasi ini, untuk benar-benar bekerja sama pada saat ini lebih dari sebelumnya karena Idlib begitu berantakan, tanpa komitmen kuat dari semua pihak ini, kita bisa masuk ke dalam situasi yang mengarah pada pertempuran besar yang akan memiliki konsekuensi tak terduga," katanya.
PBB memperingatkan pekan lalu bahwa serangan terhadap Idlib kemungkinan akan mengarah pada "bencana kemanusiaan terburuk abad ke-21."