Chandni
08 Desember 2017•Update: 10 Desember 2017
Michael Hernandez
WASHINGTON
Anggota Senat AS Al Franken pada Kamis mengatakan dia siap mundur "dalam beberapa minggu ini" seiring munculnya tuduhan pelecehan seksual yang dilakukannya.
Lusinan koleganya, anggota-anggota Senat lain asal Partai Demokrat, juga menuntut agar dia segera turun, termasuk Senator Chuck Schumer.
"Cukup sudah," kata Senator Kirsten Gillibrand.
Sejumlah tuduhan pelecehan seksual terhadap Franken mulai muncul bulan lalu, dimulai oleh seorang penyiar radio yang mengatakan mantan komedian itu melecehkannya secara seksual dan meraba-raba tubuhnya ketika dia tidur. Leeann Tweeden mengatakan insiden itu terjadi pada 2006 dan menunjukkan sebuah foto yang menguatkan klaimnya.
Tidak lama setelah itu, Franken merilis sebuah permintaan maaf.
"Saya menghormati perempuan. Saya tidak menghormati pria yang tidak menghormati perempuan. Bahwa sekarang tindakan saya membuat orang mengira saya tidak menghormati perempuan membuat saya malu," kata Franken.
Setelah kasus itu mencuat, sekitar enam perempuan lain juga menuduh Franken atas perbuatan tidak menyenangkan.
Di depan Senat pada Kamis, politisi Demokrat itu menyampaikan permintaan maaf atas perbuatannya, namun mengatakan beberapa tuduhan "sama sekali tidak benar".
"Saya tahu karakter saya sendiri," kata dia. "Namun ketika merespon semua klaim itu, saya juga ingin menghormati mereka, karena semua perempuan patut didengar dan pengalaman mereka harus direspons dengan serius."
Franken juga mengatakan dia sadar akan "ironi bahwa dirinya akan mundur sementara seorang pria yang terekam membangga-banggakan pelecehan seksualnya tetap duduk di Gedung Putih".
Pada akhir periode kampanye kepresidenan AS tahun lalu, sebuah rekaman audio membocorkan pembicaraan Presiden Donald Trump yang secara jelas mengatakan sering memegang alat kelamin perempuan. Trump kemudian meminta maaf atas kata-katanya itu, yang oleh pendukungnya diartikan sebagai "perbincangan biasa antara lelaki".
Senator Al Franken menjadi satu lagi petinggi yang terdampak oleh gerakan #MeToo di media sosial yang mendorong perempuan untuk menceritakan pengalaman pelecehan seksual yang mereka hadapi.