Muhammad Abdullah Azzam
18 September 2020•Update: 18 September 2020
Şenhan Bolelli
MADRID
Dialog dan negosiasi adalah kunci untuk meredakan ketegangan di Mediterania Timur, kata menteri luar negeri Spanyol dan Malta dalam konferensi pers bersama pada Kamis setelah melakukan pertemuan di Madrid.
Perselisihan antara Yunani dan Turki soal eksplorasi energi di Mediterania adalah salah satu topik utama diskusi selama pertemuan menteri luar negeri dua negara tersebut.
"Kami berdua berusaha untuk meningkatkan dialog dan negosiasi yang tulus antara Yunani dan Turki," kata Menteri Luar Negeri Spanyol Arancha Gonzalez Laya.
Laya mengatakan kunjungannya ke Ankara dan Athena baru-baru ini, dilakukan "secara diam-diam" untuk mendorong perundingan antar pihak yang bersengketa.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez juga telah berdiskusi dengan pemimpin Turki dan Yunani. Menurut Laya, Sanchez telah berbicara dua kali dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan minggu ini.
Menjauhkan diri dari posisi Prancis yang pro-Yunani, kedua menteri luar negeri tersebut mengatakan bahwa mereka adalah pihak netral yang berusaha untuk memfasilitasi dialog antara negara-negara yang bertikai.
"Kami harus membantu negara-negara itu untuk menyelesaikan konflik, bukan memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan," kata Menteri Luar Negeri Malta Evarist Bartolo.
“Sejarah tidak akan membantu, apalagi geografi. Sulit untuk menemukan kesepakatan, tetapi alternatifnya jauh lebih buruk, ”kata dia menambahkan bahwa Konflik militer hanya akan menunda resolusi.
Bartolo juga menepis rumor bahwa Turki akan mendirikan pangkalan udara atau militer di Malta, menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap netralitas.
Dia juga menambahkan bahwa akan selalu ada ketegangan di Mediterania Timur hingga masalah di sekitar Siprus terpecahkan.