Chandni
18 April 2018•Update: 19 April 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Starbucks akan menutup 8.000 gerai mereka di AS selama sehari untuk melakukan pelatihan bias rasial, kata perusahaan itu pada Selasa setelah menerima kritikan keras.
Penutupan sehari itu akan dilakukan pada 29 Mei untuk melatih 175.00 pegawai untuk mengenali "bias tanpa sadar" setelah insiden dimana dua pria kulit hitam ditahan polisi di salah satu gerai Starbucks pada akhir pekan.
Penahanan itu terjadi setelah pria-pria itu minta ijin menggunakan toilet di sebuah kafe Starbucks Philadelphia, namun pegawai menolak permohonan itu karena mereka belum membeli apa-apa. Kedua pria itu kemudian diusir dan pegawai menelpon polisi.
Kedua lelaki itu ditahan atas dugaan masuk tanpa izin, namun jaksa menolak tuntutan itu karena lemahnya bukti yang diberikan.
Insiden itu memantik amarah publik, dan CEO Starbucks Kevin Johnson mengatakan perusahaannya "berkomitmen menjadi bagian dari solusi".
"Penutupan gerai kami untuk pelatihan bias rasial hanya satu langkah dari sebuah perjalanan yang membutuhkan dedikasi dari semua jenjang perusahaan dan kerja sama dengan komunitas-komunitas lokal," kata dia dalam sebuah pernyataan.
Johnson sudah bertemu dengan pria-pria yang ditahan itu dan menyampaikan permintaan maaf atas nama Starbucks, menurut pernyataan itu.
Starbucks selama ini mencoba menampilkan diri sebagai perusahaan yang sadar akan perbincangan sosial, dan kejadian akhir pekan kemarin mencemarkan upaya itu.
Sebelumnya pada 2015, perusahaan itu pernah dicemooh karena menghimbau staf mereka menuliskan slogan "Race Together" guna membuka percakapan mengenai ras.
Pelatihan ini akan membahas "sentimen bias, mendukung inklusi bagi semua, mencegah diskriminasi, dan memastikan semua orang merasa aman dan nyaman di gerai-gerai Starbucks," menurut perusahaan itu.