Sayed Khodaberdi Sadat
KABUL
Pasukan Amerika Serikat menembak dan membunuh warga sipil ketika membalas serangan bom mematikan pekan lalu oleh Daesh / ISIS-K dekat Bandara Internasional Hamid Karzai di ibu kota Afghanistan, Kabul.
"Sebuah laporan menyebutkan bahwa tentara AS menembaki kerumunan orang setelah serangan di Bandara Kabul, sehingga sejumlah warga sipil - termasuk perempuan dan anak-anak - terbunuh," ungkap jubir Taliban Zabihullah Mujahid kepada Anadolu Agency.
Mujahid mengatakan setelah penarikan pasukan asing sepenuhnya dari negara itu dan pembentukan pemerintah baru, tidak akan ada alasan lagi bagi kelompok-kelompok teror untuk menyerang.
Menurut Mujahid, mereka yang beroperasi di bawah Daesh / ISIS di negara itu tidak berasal dari Irak atau Suriah, melainkan orang-orang Afghanistan dengan mentalitas kelompok teroris.
Dia menambahkan bahwa anggota Taliban berhasil memberikan keamanan dan dapat menangani kelompok-kelompok seperti Daesh / ISIS.
Belajar dari perang 20 tahun, Taliban mampu mengumpulkan intelijen yang tepat dan akurat, dan mereka tidak membutuhkan dukungan dari negara mana pun dalam perjuangan mereka melawan Daesh / ISIS.
Afghanistan ingin dukungan Turki
Mujahid mengatakan Taliban ingin menjalin hubungan "sangat baik" dengan Turki.
"Orang-orang Turki adalah kawan kita. Ada beberapa alasan mengapa persahabatan ini harus berlanjut," ujar dia.
Menurut jubir, Taliban memiliki pasukan khusus untuk menjaga Bandara Kabul, jadi tidak akan sulit bagi Taliban untuk menjaga seluruh wilayah Afghanistan, termasuk ibu kota.
Mengenai pasokan kebutuhan logistik dan teknis di Bandara Internasional Hamid Karzai, dia mengatakan Taliban sudah berbicara dengan pihak Turki.
"Kami meyakinkan bahwa tidak akan ada masalah keamanan, bahwa kami akan terus memasok kebutuhan setelah situasi di bandara membaik. Jika diperlukan, kita dapat meminta kebutuhan dari Turki atau negara lain," jelas Mujahid.
"Kami juga ingin menjalin hubungan ekonomi dengan Turki. Kami membutuhkan dukungan Turki di bidang pendidikan, sama seperti sebelumnya. Kami ingin orang-orang Turki mempertahankan hubungan persahabatan, mengingat ada ikatan historis yang mendalam antara orang-orang Afghanistan dan Turki,"
'Uang yang diblokir di luar negeri akan diperoleh lagi'
Mujahid mengatakan masalah keuangan, yang merupakan masalah jangka pendek, akan diselesaikan secara bertahap begitu pemerintah terbentuk.
"Afghanistan sudah memiliki penghasilan sendiri. Selain itu, kami akan menuntut pengembalian uang milik Afghanistan, yang diblokir [di AS dan Swiss] setelah pembentukan pemerintah," tegas dia.
Jubir itu juga menyerukan bantuan dari Bank Dunia dan berbagai sumber internasional untuk keberlangsungan negara.
"Orang-orang Afghanistan membutuhkan bantuan di setiap bidang, terutama dalam hal bantuan kemanusiaan dan medis," jelas Mujahid.
Pemimpin Taliban di Kandahar
Mengenai keberadaan pemimpin Taliban Mullah Hibatullah Akhundzada yang telah bersembunyi selama bertahun-tahun, Mujahid mengatakan dia berada di Kandahar, Afghanistan Selatan.
"Nama pemimpin kami tidak tercatat dalam daftar hitam internasional. Karena itu, dia tidak berbahaya. Hibatullah Akhundzada saat ini tengah mengadakan beberapa pertemuan di Kandahar," terang dia.
Itu adalah kali pertama Taliban mengonfirmasi keberadaan pemimpin mereka di Afghanistan.
Kami dapat menguasai Panjshir dalam waktu singkat'
Mujahid mengatakan negosiasi dengan pemimpin Tajik, Ahmad Massoud berlanjut.
Sebelumnya, Massoud menolak menyerahkan Provinsi Panjshir ke Taliban.
"Kami tidak ingin ada konflik di Panjshir. Kami mendukung negosiasi. Jika negosiasi gagal, daerah di sekitar Panjshir sudah dikelilingi oleh pasukan Taliban. Jika kita mau, kita bisa merebutnya dalam waktu yang sangat singkat," kata Mujahid.
Dia juga mengatakan bahwa upaya sedang berlangsung untuk membentuk pemerintahan yang inklusif.
"Hak semua orang akan diperhitungkan dalam pemerintahan ini," ujar jubir Taliban.
*Ditulis oleh Dilan Pamuk dan Gozde Bayar
news_share_descriptionsubscription_contact
