Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
03 Februari 2020•Update: 04 Februari 2020
Nuri Aydin
ANKARA
Dokter di Rumah Sakit Rajavithi di Bangkok, Thailand, membuat kemajuan pada dalam pengobatan pasien yang terinfeksi virus korona, Minggu.
Mereka memberikan kombinasi obat HIV dan flu pada pasien terinfeksi virus korona, yang kemudian mengarah pada peningkatan kondisi kesehatan 48 jam setelah perawatan.
Seorang wanita warga negara China berusia 70 tahun asal Wuhan termasuk di antara pasien yang pulih dalam 10 hari.
Tim dokter menggunakan obat anti-HIV seperti lopinavir dan ritonavir serta obat flu oseltamivir sebagai campuran untuk pengobatan.
Kriangska Atipornwanich, spesialis paru-paru di Rumah Sakit Rajavithi, mengatakan bahwa upaya tersebut bukan metode yang pasti untuk mengobati virus, tetapi bisa membantu meningkatkan kondisi pasien.
Atipornwanich menyebut bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah metode ini dapat digunakan sebagai bentuk pengobatan standar.
"Hasil tes berubah dari positif (untuk virus) menjadi negatif 48 jam setelah menerapkan campuran ini," ujar dia.
Setelah pertemuan evaluasi yang akan diadakan dengan Kementerian Kesehatan Thailand pada Senin, campuran tersebut dapat diterapkan pada pasien lain juga.
Thailand telah mencatat 19 kasus virus korona sejauh ini. Delapan dari mereka dipulangkan setelah menjalani perawatan, sementara 11 lainnya melanjutkan pengobatan mereka.
Pejabat kesehatan China juga telah menggunakan obat HIV dan flu untuk mengobati virus korona.
Virus korona telah menewaskan lebih dari 300 orang di China, dengan lebih dari 14.000 terinfeksi.
Sejak wabahnya merebak, China telah menempatkan Kota Wuhan - tempat virus pertama kali terdeteksi - dalam status terkunci sebagai upaya untuk membendung penyebaran virus.
Pemerintah juga membangun rumah sakit yang mampu menampung 1.000 tempat tidur untuk mengobati mereka yang terkena dampak.
Organisasi Kesehatan Dunia telah menyatakan wabah virus korona sebagai keadaan darurat internasional.