Hayati Nupus
10 April 2019•Update: 10 April 2019
Gozde Bayar
ANKARA
Sebuah tim yang terdiri dari hampir 40 pakar keamanan siber yang dipimpin oleh NATO bersaing dalam Locked Shields 2019, pelatihan siber "tembak-menembak" terbesar di dunia mulai Selasa, kata pernyataan tim tersebut.
Digelar oleh Pusat Keunggulan Pertahanan Cyber Koperatif NATO (CCDCOE) di negara Baltik Estonia, latihan tahunan ini merupakan peluang unik bagi pakar siber untuk meningkatkan keterampilan mempertahankan sistem dan infrastruktur teknologi informasi nasional, tambah pernyataan itu.
Pelatihan tiga hari itu menggunakan pendekatan "tembakan langsung" berbasis game, yang memungkinkan peserta untuk mengambil peran dalam tim respons fiksi di laboratorium.
Skenario latihan tahun ini adalah membentuk negara fiktif bernama Berylia, yang menghadapi serangan siber terhadap infrastruktur sipilnya di tengah pemilihan nasional.
Serangan itu mengakibatkan gangguan fatal di berbagai bidang seperti sistem pemurnian air, jaringan tenaga listrik, dan jaringan keselamatan publik 4G.
Tujuan utama tim adalah untuk melindungi jaringan dari serangan lebih lanjut.
Tim NATO, yang muncul sebagai pemenang Locked Shields sebelumnya, memperkuat timnya tahun ini dengan 10 sukarelawan dari enam sekutu NATO - Bulgaria, Kroasia, Norwegia, Rumania, Slovenia, dan Turki.
Lebih dari 1.000 pengambil keputusan siber internasional akan turut serta dalam latihan ini.
Locked Shields adalah peluang unik untuk mendorong eksperimen, pelatihan, dan kerja sama antara anggota CCDCOE, NATO, dan negara mitra sejak 2010.