Riyaz ul Khaliq dan Ali Murat Alhas
ANKARA
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu mengatakan bahwa dia dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un setuju untuk melanjutkan dialog denuklirisasi dalam beberapa pekan mendatang.
Setelah mengadakan pertemuan selama satu jam - yang belum pernah terjadi sebelumnya - dengan Kim di "Freedom House" Zona Demiliterisasi (DMZ), Trump mengatakan kepada wartawan bahwa pembicaraan akan bersifat bilateral antara tim dari dua negara.
"Kami melihat kesepakatan yang sangat komprehensif . Ini adalah hari yang hebat dan bersejarah, dilakukan dengan cepat," kata Trump kepada wartawan yang disiarkan langsung oleh sejumlah saluran TV dari DMZ.
Trump bergabung dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in yang kemudian menyaksikan Kim menyeberang ke sisi Korea Utara setelah pertemuan selama satu jam itu berakhir.
Hubungan kerja AS-Korea Utara
"Saya berterima kasih kepada Kim. Jika dia tidak muncul, Anda [media] akan memukul saya, memukul saya dengan keras," kata Trump.
Dia menyebut pertemuan itu baik, kuat dan solid, menambahkan bahwa tidak ada uji coba nuklir dan uji balistik, tetapi ada banyak niat baik dari pihak Korea Utara.
Trump mengatakan bahwa pemerintah AS yang lalu tidak melakukan apa pun untuk denuklirisasi semenanjung Korea.
"[Selama] dua setengah tahun terakhir kita memiliki kedamaian. Sekarang, menteri luar negeri kami Mike Pompeo akan menindaklanjutinya dalam dua-tiga minggu, tim akan mulai mengerjakan suatu proses," tambah dia.
Tidak ada uji coba nuklir
Presiden AS tidak membesark-besarkan isu uji coba rudal terakhir yang dilakukan oleh Korea Utara pada awal Mei.
"Itu rudal yang sangat kecil. Rudal yang secara praktis diuji setiap negara ... Dan yang paling penting, belum ada uji coba nuklir," kata Trump menjawab pertanyaan.
Sanksi terhadap Korea Utara
Trump mengatakan bahwa dia berharap beberapa bantuan akan diberikan kepada Korea Utara selama negosiasi denuklirisasi dengan Pyongyang.
"Pada titik tertentu selama negosiasi, sesuatu dapat terjadi," kata dia kepada wartawan di DMZ.
Korea Utara berada di bawah sanksi berat PBB dan AS sejak 2006, setelah negara itu melakukan uji coba nuklir pertamanya.
Trump menyebrang ke Korea Utara
Dalam suatu langkah bersejarah, Trump menyeberang ke sisi Korea Utara di perbatasan DMZ, perbatasan de facto antara Korea Utara dan Selatan sejak perang Korea 1950-1953.
Dia menjadi presiden Amerika Serikat pertama yang menyeberang ke wilayah Korea Utara.
Sebelumnya, mantan Presiden AS Ronald Reagan, Bill Clinton, George W. Bush dan Barack Obama juga mengunjungi DMZ masing-masing pada 1983, 1993, 2002 dan 2012.
"Saya bertanya kepada dia [Kim], apakah Anda ingin saya menyebrang? Dia menjawab: Aku akan merasa sangat terhormat," kata Trump kepada wartawan.
Trump mengatakan itu adalah langkah yang cukup bagus dan obrolan yang cukup panjang, sekitar satu jam atau lebih.
Kim memuji Trump karena menyeberang ke wilayah Korea Utara dan mengatakan bahwa dia merasa terhormat.
Pemimpin Korea Utara mengatakan bahwa dia juga ingin bertemu dengan presiden AS di DMZ.
"Saya juga ingin bertemu dengan Anda untuk menunjukkan kepada Anda simbol pemisahan [semenanjung Korea] dan mengingatkan Anda tentang masa lalu yang malang ... untuk meninggalkan masa lalu yang malang itu dan bergerak ke masa depan," kata Kim kepada media sebelum menuju pertemuan di "Freedom House" .
Kim diundang ke Gedung Putih
Trump juga mengatakan bahwa dia mengundang Kim Jong-un untuk mengunjungi Gedung Putih di Amerika Serikat.
"Ya. Pada titik tertentu, itu semua akan terjadi," kata Presiden AS tentang kunjungan Kim ke Washington.
Ketika ditanya apakah ada negosiator nuklir Korea Utara yang meninggal dunia, Trump mengatakan bahwa tokoh utamanya masih hidup dan berharap bahwa yang lain juga bernasib sama.
Sebuah surat kabar Korea Selatan bulan lalu melaporkan bahwa Korea Utara telah menembak mati Kim Hyok-chol, yang mewakili Pyongyang dalam pembicaraan dengan Perwakilan Khusus Washington Stephen Biegun dalam negosiasi sebelum KTT Hanoi diadakan Februari lalu.
Laporan itu tidak dapat dikonfirmasi secara independen.
Penghargaan untuk Presiden Trump
Berbicara dengan wartawan di samping Trump, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menyebut KTT Trump-Kim sebagai sebuah pencapaian besar.
"Kami memiliki masalah besar tapi kami bisa mengatasinya dan bisa melihat harapan di cakrawala. Kami telah mampu mengatasi rintangan dalam proses denuklirisasi ," kata Moon, yang menemani Trump di DMZ.
Sementara itu, Trump berterima kasih kepada tentara AS yang ditempatkan di Korea Selatan dengan mengatakan bahwa mereka melakukan pekerjaan yang terpuji dalam mengatur pertemuan dengan pemberitahuan sesingkat itu.
Pemberitahuan melalui Twitter
Trump pada Sabtu pagi mengumumkan melalui Twitter bahwa dia ingin bertemu Kim di DMZ.
Sementara itu, Korea Utara menyebut tawaran Trump sebagai saran menarik dan menambahkan bahwa pihaknya tidak menerima proposal resmi untuk pertemuan itu.
Kemudian pada hari selanjutnya Trump mengkonfirmasi bahwa dia akan bertemu dengan Kim di DMZ.
Dia mengklaim kemenangan tawaran diplomatiknya dengan Korea Utara, mengatakan bahwa Pyongyang tidak mengadakan uji coba nuklir lebih lanjut sejak dia memulai pembicaraan dengan Kim.
Perbatasan de facto DMZ
DMZ memiliki panjang sekitar 250 kilometer dan lebar 4 km yang membagi Korea Utara dan Selatan sejak perang Korea 1950-1953.
Secara teknis, kedua Korea masih dalam keadaan perang sejak saat itu karena Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Ini adalah salah satu perbatasan berbenteng paling ketat di dunia sejak 1950-an.