Rhany Chairunissa Rufinaldo
27 September 2018•Update: 27 September 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan pada Rabu bahwa "semua opsi tersedia" sehubungan dengan Venezuela.
"Semua opsi. Yang kuat, dan yang lebih lemah. Anda tahu apa yang saya maksud dengan kuat," kata Trump ketika berada di New York untuk Majelis Umum PBB. "Kami akan mengurus rakyat Venezuela."
Komentar tersebut adalah ancaman paling eksplisit dari aksi militer setelah Trump menolak untuk mengesampingkan opsi tersebut saat berbicara kepada wartawan, Selasa.
New York Times melaporkan awal bulan ini bahwa sejumlah pejabat AS mengadakan pembicaraan dengan mantan komandan militer Venezuela untuk melakukan kudeta di negara Amerika Latin itu, tetapi Washington akhirnya memutuskan untuk tidak mendukung kudeta tersebut.
Venezuela telah dilanda inflasi yang meroket, perekonomiannya yang terpusat pada minyak telah hancur oleh penurunan harga minyak global.
Sejak 2015, sekitar 1,6 juta orang Venezuela telah meninggalkan negara itu karena kekurangan kebutuhan dasar dan hiperinflasi, membanjiri negara tetangga Amerika Latin seperti Kolombia, Ekuador, dan Peru.
Untuk mencoba menahan arus pendatang yang meningkat, Peru baru-baru ini mulai mewajibkan warga Venezuela untuk menunjukkan paspor mereka saat masuk ke negara itu.
Tiga belas negara kawasan bergabung dalam pertemuan dua hari yang berlangsung di Quito, Ekuador pada 3 hingga 4 September untuk mengatasi krisis migran dan mengoordinasikan tanggapan regional.
Sebelas negara Amerika Latin menandatangani pernyataan bersama yang meminta lebih banyak dana untuk mengatasi krisis migran Venezuela.
Blok regional itu juga meminta pihak berwenang Venezuela untuk memberikan dokumen perjalanan kepada warga negaranya untuk memfasilitasi mobilitas mereka di seluruh benua.
"Kami mendesak pemerintah Venezuela untuk mengambil tindakan mendesak untuk memberikan identifikasi yang diperlukan dan dokumen perjalanan ke warganya seperti KTP, paspor dan akta kelahiran," katanya.