Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
11 Februari 2020•Update: 12 Februari 2020
Kayhan Gul, Talha Ozturk
BEOGRAD, Serbia
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan negaranya akan melanjutkan perjuangan sampai semua teroris, di mana pun mereka berada, dilumpuhkan, seperti yang telah dilakukan di dalam negeri.
Cavusoglu membuat pernyataan setelah tiba di ibu kota Montenegro Podgorica untuk kunjungan resmi, Senin.
"Kami kehilangan lima martir hari ini. Saya mengharapkan rahmat dari Allah untuk para martir dan kesembuhan segera bagi prajurit kami yang terluka. Kami akan melanjutkan perjuangan sampai kami membersihkan semua teroris, di mana pun mereka berada," ujar dia.
Setidaknya lima tentara Turki gugur dan lima lainnya terluka dalam serangan oleh pasukan rezim Bashar al-Assad di Idlib, Suriah barat laut, Senin.
Rifat Fejzic, presiden Uni Islam Montenegro, turut menegaskan tekad Turki untuk membasmi terorisme.
"Turki akan menyingkirkan momok terorisme. Di masa lalu, para teroris ini ada di Turki, tetapi sekarang mereka hampir punah. Turki tidak hanya membersihkan momok terorisme di dalam, tetapi juga di luar wilayahnya. Semoga Allah membantu mereka," kata Fejzic.
Dia mencatat bahwa Turki adalah negara yang sangat penting bagi Montenegro dan umat Islam di Balkan.
"Kami memiliki sejarah dan agama yang sama. Kami juga sangat senang karena hubungan yang sangat baik antara Turki dan Montenegro," kata Fejzic.
Dia juga mengharapkan rahmat Tuhan untuk tentara Turki yang gugur dalam serangan itu.
Sementara itu, sebuah doa dibacakan untuk para martir di Masjid Nizam di Kota Tuzi selama kunjungan Cavusoglu.
Pasukan Turki berada di Idlib sebagai bagian dari misi anti-teror dan perdamaian.
Terletak di barat laut Suriah, Provinsi Idlib menjadi markas kubu oposisi dan kelompok bersenjata anti-pemerintah sejak pecahnya perang sipil pada 2011.
Pada September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Tetapi, rezim dan pasukan Rusia di zona itu terus melanggar gencatan senjata dan menyebabkan lebih dari 1.300 warga sipil tewas.