Saadet Gökce
14 Mei 2026•Update: 14 Mei 2026
Presiden China Xi Jinping dijadwalkan menjamu Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam KTT China-AS di Beijing pada Kamis, di tengah meningkatnya perhatian global terhadap perang Iran serta ketegangan perdagangan dan teknologi antara dua kekuatan ekonomi dunia itu.
Pertemuan tingkat tinggi yang digelar di Great Hall of the People tersebut diperkirakan akan membahas konflik Iran, isu Taiwan, teknologi, perdagangan, hingga tarif antara Washington dan Beijing.
Menurut jadwal acara, Trump dijadwalkan tiba di lokasi pertemuan sekitar pukul 10.00 waktu setempat.
Sebelumnya, Trump mengatakan dirinya akan mengangkat isu penjualan senjata ke Taiwan dan kasus taipan media Hong Kong Jimmy Lai yang dipenjara.
Sementara itu, pemerintah China menyebut kedua pemimpin akan membahas “isu-isu utama terkait hubungan China-AS, perdamaian dunia, dan pembangunan.”
Trump juga mengatakan permintaan pertamanya kepada Xi adalah agar China lebih membuka akses bagi bisnis Amerika Serikat.
Presiden AS itu didampingi Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta sejumlah CEO perusahaan besar AS, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO Tesla Elon Musk.
Delegasi bisnis AS lainnya meliputi CEO Apple Tim Cook, Larry Fink dari BlackRock, Stephen Schwarzman dari Blackstone, Kelly Ortberg dari Boeing, Brian Sikes dari Cargill, Jane Fraser dari Citigroup, Larry Culp dari GE Aerospace, David Solomon dari Goldman Sachs, Sanjay Mehrotra dari Micron, dan Cristiano Amon dari Qualcomm.
Putra Trump, Eric Trump, bersama istrinya Lara Trump juga ikut mendampingi lawatan tersebut.
Namun, Ibu Negara AS Melania Trump tidak termasuk dalam rombongan kunjungan kali ini.
Kunjungan itu menjadi lawatan pertama presiden AS ke China sejak kunjungan Trump sendiri pada 2017 saat masa jabatan pertamanya.
Presiden Joe Biden tidak melakukan kunjungan ke China selama masa pemerintahannya.
Pertemuan Trump dan Xi berlangsung di tengah konflik Timur Tengah yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu serangan balasan terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk serta penutupan Selat Hormuz.
Penutupan jalur strategis tersebut mengganggu perdagangan internasional, terutama distribusi minyak global.