Maria Elisa Hospita
11 Mei 2018•Update: 11 Mei 2018
Merve Aydogan
ANKARA
Kementerian Luar Negeri Turki pada Kamis menyampaikan kekhawatiran mereka mengenai polemik Pulau Socotra, Yaman, setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengirimkan pasukan militernya ke sana pekan lalu.
"Kami terus memantau perkembangan di Pulau Socotra, Yaman. Kami khawatir ini akan menjadi ancaman baru bagi integritas teritorial dan kedaulatan Yaman, yang juga telah dinyatakan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB terkait," kata kementerian.
Kementerian menekankan bahwa Yaman tidak mampu menghadapi masalah dan konflik baru karena negara tersebut sudah mengalami "masa sulit" akibat konflik yang masih berlangsung selama lebih dari tiga tahun.
"Semua pihak yang terkait harus menghormati pemerintah Yaman yang sah. Kami meminta semuanya untuk menahan diri dari mengambil langkah-langkah yang mempersulit solusi. Kami mengharapkan dukungan PBB untuk memberikan momentum melalui negosiasi demi penyelesaian krisis Yaman," tambah kementerian.
Ketegangan telah meliputi Yaman dan UEA sejak pekan lalu, ketika UEA mengerahkan pasukan militer ke Socotra tanpa berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah Yaman, yang sejak 2015 berbasis di kota Aden.
Pekan lalu, Perdana Menteri Yaman Ahmed Obeid bin Daghr mengunjungi Socotra untuk menegaskan kembali kedaulatan Yaman atas pulau itu.
Menurut pemerintah Yaman, pasukan UEA saat ini telah menguasai bandara dan pelabuhan Socotra.
Pada 2015, Arab Saudi dan sekutu Sunni-Arabnya melancarkan kampanye militer besar-besaran terhadap para pemberontak.