Maria Elisa Hospita
22 April 2020•Update: 23 April 2020
Zehra Nur Duz
ANKARA
Perusahaan-perusahaan Uni Emirat Arab mengirim berton-ton bahan bakar pesawat ke Libya Timur, di mana panglima perang Khalifa Haftar berbasis.
Financial Times menduga pengiriman tersebut sebagai pelanggaran embargo senjata internasional.
Bulan lalu, perusahaan-perusahaan itu mengirim sekitar 11.000 ton bahan bakar ke Kota Benghazi, yang dikuasai milisi Haftar.
Menurut penyelidikan Financial times, pengiriman itu memiliki nilai pasar hampir USD5 juta saat diambil dari UEA.
Pemasok bahan bakar, Afrifin Logistics FZE, yang berbasis di Sharjah, memuat bahan bakar ke MT Gulf Petroleum 4, sebuah kapal tanker berbendera Liberia yang dioperasikan oleh Gulf Shipping Services FZC.
"PBB menyebut bahan bakar jet adalah persediaan tempur dan pengiriman ke Libya Timur bisa dianggap sebagai pelanggaran embargo," papar surat kabar itu mengutip Stephanie Williams, utusan PBB untuk Libya.
Williams mengatakan bahan bakar jet yang diimpor secara ilegal kemungkinan akan digunakan untuk mendukung operasi angkatan udara Haftar.
Di sisi lain, National Oil Corporation yang berbasis di Tripoli telah memasok bahan bakar jet dalam jumlah cukup ke bagian timur negara itu untuk penggunaan komersial.
Para pejabat PBB akan menyelidiki transaksi keuangan dan mengidentifikasi perusahaan sekaligus orang-orang yang terlibat dalam pengiriman.
Sejak April tahun lalu, pasukan Haftar telah melancarkan serangan ke Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya, dan menewaskan lebih dari 1.000 jiwa.
GNA kemudian meluncurkan Operasi Badai Perdamaian untuk melawan serangan di Tripoli sejak 26 Maret.
Sejak wafat dan lengsernya Muammar Gaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan UEA, dan satu lainnya di Tripoli yang diakui oleh PBB dan komunitas internasional.