BRUSSELS
Uni Eropa pada Jumat menjatuhkan sanksi terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov, kata kepala kebijakan luar negeri blok itu Josep Borrell pada Jumat.
"Kami telah memasukkan Presiden Putin dan Menteri Luar Negeri Lavrov ke dalam daftar sanksi," kata Borrell pada konferensi pers setelah pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa.
Dia menjelaskan bahwa para pemimpin UE tidak dapat menyetujui hal ini pada hari Kamis selama pertemuan luar biasa mereka, tetapi negosiasi berlanjut dan para menteri luar negeri akhirnya menyetujui untuk menjatuhkan sanksi larangan perjalanan dan pembekuan aset terhadap Putin dan Lavrov.
Paket sanksi baru ini juga menargetkan Belarus karena keterlibatannya dalam intervensi militer di Ukraina, dan memberlakukan pembatasan serius pada keuangan dan kebijakan visa.
“Kami memotong akses Rusia ke pasar modal yang paling penting,” kata Borrell, sambil menambahkan bahwa langkah-langkah baru akan secara signifikan membatasi aliran modal ke Rusia.
Sanksi tersebut menargetkan 70 persen sektor perbankan Rusia, perusahaan milik negara utama, sementara blok tersebut juga memberlakukan pembatasan perdagangan yang terkait dengan sektor energi, penerbangan, dan teknologi mutakhir.
Uni Eropa pada Rabu mengadopsi paket sanksi pertama terhadap Rusia karena melanggar integritas teritorial Ukraina.
Tindakan tersebut menargetkan antara lain Menteri Pertahanan Sergei Shoigu, dua wakil perdana menteri, pejabat tinggi militer, dan 351 anggota Duma Negara, majelis rendah parlemen Rusia.
Intervensi militer Rusia di Ukraina memasuki hari kedua pada Jumat, dengan laporan terbaru menunjukkan bahwa pasukan Rusia menuju ibukota Kyiv dari beberapa arah.
Putin telah memerintahkan intervensi militer pada Kamis, hanya beberapa hari setelah mengakui dua wilayah yang dikuasai separatis di Ukraina timur.
Dia mengklaim bahwa Moskow tidak memiliki rencana untuk menduduki negara tetangga, tetapi ingin "demiliterisasi" dan "denazifikasi" Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuduh Rusia mencoba mendirikan pemerintahan boneka dan mengatakan Ukraina akan membela negara mereka dari agresi Rusia.
Ketegangan mulai meningkat akhir tahun lalu ketika Ukraina, AS dan sekutunya menuduh Rusia mengumpulkan hampir 150.000 tentara di perbatasan dengan Ukraina.
Mereka mengklaim Rusia sedang bersiap untuk menyerang tetangga baratnya, tuduhan yang secara konsisten ditolak oleh Moskow.