Umar Idris
27 Mei 2020•Update: 28 Mei 2020
Gulsen Cagatay
ANKARA
Eropa memperoleh komitmen investasi sebesar € 60 miliar atau sekitar USD66 miliar (Rp990 triliun) untuk memproduksi kendaraan listrik (EV) dan baterai sepanjang 2019 atau 19 kali lebih banyak dari 2018, demikian analisis baru dari laporan Federasi Transportasi dan Lingkungan Uni Eropa, pada Senin.
Menurut laporan organisasi nirlaba yang berbasis di Brussels itu, industri dan pemerintah Uni Eropa berkomitmen berinvestasi 3,5 kali lebih banyak di bidang kendaraan listrik dan produksi baterai di Eropa daripada di China karena didorong oleh Target CO2 mobil Uni Eropa.
Organisasi tersebut menyatakan dalam laporannya bahwa bantuan Uni Eropa dan anggotanya pasca Covid-19 terhadap industri otomotif yang dilanda bencana harus dibangun berdasarkan investasi ini.
Organisai ini juga menyatakan bantuan pemerintah harus mendukung pemulihan industri hijau dengan memprioritaskan produksi mobil listrik dan insentif pembelian untuk meningkatkan penjualan mobil tanpa emisi, terutama oleh perusahaan, perusahaan taksi, dan jasa taksi online.
Menurut laporan itu, Jerman mendapat bagian terbesar sebesar € 40 miliar, terutama berasal dari Grup Volkswagen (VW), dan Tesla yang mengumumkan pabriknya di Berlin.
"Republik Ceko menerima € 6,6 miliar, juga berkat VW, yang berencana untuk memproduksi 75 model semua-listrik di seluruh dunia pada tahun 2029," kata laporan.
Selain itu Italia mendapatkan € 1,75 miliar dalam investasi mobil listrik tahun lalu dari Fiat, sementara Perancis, Swedia dan Inggris masing-masing mendapat sekitar € 1 miliar dari produsen mobil.
Akhirnya, Spanyol menerima hampir € 300 juta dari Opel, dan Kroasia mendapat € 80 juta dari Hyundai dan Kia.
Saul Lopez, manajer di T&E, mengatakan bahwa beberapa tahun yang lalu Eropa tidak mengalami kompetisi untuk memproduksi mobil listrik, namun kali ini akan berubah di tahun mendatang.
"Target CO2 Uni Eropa adalah para produsen mobil dan pemerintah untuk menginvestasikan € 60 miliar pada mobil dan baterai listrik dan akhirnya menutup celah dengan China. Keberhasilan di sektor ini perlu didukung dengan membuat kebijakan industri di tingkat Uni Eropa, dan anggota parlemen harus melipatgandakan dengan langkah-langkah stimulus yang juga akan mendorong pemulihan ramah lingkungan," katanya.