Nani Afrida
25 Februari 2019•Update: 26 Februari 2019
Hasan Esen
CARACAS, Venezuela
Venezuela membantah sejumlah klaim yang mengatakan pihaknya telah membakar truk-truk yang membawa bantuan kemanusiaan, kata menteri informasi Venezuela pada Minggu.
Berbicara dalam konferensi pers, Jorge Rodriguez mengecam informasi palsu yang sudah tersebar merujuk peristiwa yang terjadi baru-baru ini di negara Amerika Selatan tersebut.
Rodriguez mengatakan dua truk dibakar di wilayah Kolombia sebelum mencapai pasukan militer Venezuela.
Dia juga berbagi rekaman yang diambil oleh pengunjuk rasa dan drone terkait dengan kekerasan yang terjadi pada Sabtu.
Rodriguez mengatakan bom molotov yang dilemparkan oleh para demonstranlah yang menyebabkan kebakaran.
Sebelumnya, Sekretaris Negara AS Mike Pompeo mengecam Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dengan mengatakan pemerintahannya "tinggal menghitung hari".
"Kami sangat berharap dalam beberapa hari, atau minggu atau bulan ke depan rezim Maduro akan memahami bahwa orang-orang Venezuela telah menentukan hari-harinya," kata Pompeo dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu.
Federica Mogherini, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, mengatakan: "Kami sangat menyerukan penegak hukum dan badan keamanan untuk bisa menahan diri, menghindari penggunaan kekerasan dan memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan."
“Ada laporan yang mengkhawatirkan tentang kerusuhan, aksi kekerasan dan semakin banyak korban, khususnya di daerah perbatasan dan di antara masyarakat adat Pemon,” kata Mogherini.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kolombia Carlos Holmes Trujillo mengatakan ada total 285 orang terluka selama usaha membawa "bantuan kemanusiaan" melintasi perbatasan ke Venezuela.
Dari jumlah tersebut, 30 di antaranya adalah warga negara Kolombia.
Jumlah tentara Venezuela yang mengungsi di Kolombia naik menjadi 61 personil, Trujillo menambahkan.
Setelah Kolombia membantu Presiden Venezuela yang memproklamirkan diri Guaido membawa bantuan kemanusiaan ke negara itu, Nicolas Maduro mengatakan pada Sabtu bahwa ia tidak bisa lagi mentolerir "wilayah Kolombia digunakan untuk serangan terhadap Venezuela".
Dia menambahkan: "Untuk alasan itu, saya telah memutuskan untuk menutup semua hubungan politik dan diplomatik dengan pemerintah fasis Kolombia. Staf diplomatik Kolombia memiliki 24 jam untuk meninggalkan negara itu."
Menteri luar negeri Kolombia menanggapi di Twitter, mengatakan negaranya tidak mengakui keputusan Maduro untuk memutuskan hubungan politik dan diplomatik dengan negaranya, dan mengakui Juan Guaido sebagai presiden Venezuela yang sah.
Guaido mendeklarasikan dirinya sebagai penjabat presiden pada 23 Januari hingga pemilihan baru diadakan, dan diakui oleh Australia, Kanada, Columbia, Peru, Ekuador, Paraguay, Brasil, Chili, Panama, Argentina, Kosta Rika, dan AS Parlemen Eropa mengambil langkah dalam arah yang sama.
Turki, Rusia, Iran, Kuba, Cina, dan Bolivia menegaskan kembali dukungan untuk Presiden Venezuela Maduro, yang berjanji untuk memutuskan semua hubungan diplomatik dan politik dengan AS setelah pertikaian diplomatik.
Presiden A.S. Donald Trump mengisyaratkan untuk mengunakan intervensi militer sebagai kemungkinan pilihan untuk membantu menyelesaikan krisis.