ISTANBUL
Warga Suriah yang mengungsi ke Turki tetap berkomitmen untuk menggunakan hak mereka untuk kembali ke tanah air mereka ketika kondisi kemanusiaan, keamanan dan politik yang diperlukan telah terpenuhi, kata pernyataan bersama dari banyak LSM pada Selasa.
Lebih dari 200 organisasi menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh Federasi Organisasi Non-pemerintah Internasional di sebuah hotel di Istanbul, dan pernyataan bersama itu dibacakan oleh kepala Jaringan Serikat Pekerja Suriah Salih Akide.
Akide menggarisbawahi bahwa Turki telah menyambut lebih dari 3,6 juta warga Suriah dengan tangan terbuka sejak perang saudara dimulai pada 2011.
Para pengungsi Suriah tunduk pada undang-undang tentang orang asing dan peraturan perlindungan sementara sejak 2014.
Akide menekankan bahwa beberapa kalangan politik di Turki baru-baru ini mulai menggunakan kehadiran warga Suriah sebagai alat propaganda menjelang pemilihan umum mendatang yang dijadwalkan pada Juni 2023.
Dia mengatakan informasi palsu tentang pengungsi Suriah di Turki mulai menyebar, dan situasi ini telah menyebabkan peningkatan ketegangan dan kebencian di antara masyarakat terhadap orang asing pada umumnya dan Suriah pada khususnya.
Akide juga mengingatkan bahwa pemerintah Turki memastikan kembalinya 500.000 warga Suriah ke tanah air mereka dengan aman dan sebuah proyek baru telah diluncurkan untuk pemulangan secara sukarela hingga satu juta warga Suriah ke negara asal mereka.
Dia mengatakan bahwa orang-orang Suriah tidak terlibat dalam urusan internal Turki sejak kedatangan mereka dan kehadiran mereka di negara itu tidak boleh digunakan dalam kepentingan politik dan masalah tersebut harus ditangani sesuai dengan budaya keramahan Turki.
Sebagai NGO, mereka mengadvokasi pendirian lingkungan yang berkelanjutan di Suriah dalam hal keamanan, ekonomi, dan keadilan, Akide mengatakan mereka mendukung semua upaya untuk kembalinya pengungsi secara permanen ke Suriah, jika ada solusi politik tercapai yang akan menjamin keselamatan jiwa dan harta benda mereka.
Dia meminta masyarakat internasional untuk memikul tanggung jawabnya dan mengambil bagian dalam upaya untuk menyelesaikan masalah yang telah membuat jutaan warga Suriah mengungsi.
Muhammed Akta, kepala Federasi Internasional Organisasi Non-pemerintah, mengatakan penelitian yang dilakukan baru-baru ini mengungkapkan bahwa 80 persen warga Suriah di Turki ingin kembali ke tanah air mereka.
Lebih dari 3,7 juta warga Suriah saat ini tinggal di Turki, menjadikannya negara penerima pengungsi terbesar di dunia.
Sejak awal perang saudara berdarah di Suriah, Turki mengadopsi kebijakan "pintu terbuka" bagi warga Suriah yang melarikan diri dari penganiayaan dan kebrutalan di negara tetangga.
news_share_descriptionsubscription_contact
