Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
16 Januari 2020•Update: 16 Januari 2020
Burak Bir
ANKARA
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut krisis iklim dan konsekuensi akibat perubahan iklim menjadi satu di antara 13 tantangan kesehatan selama 10 tahun ke depan.
"Negara-negara berinvestasi besar-besaran dalam melindungi rakyat mereka dari serangan teroris, tetapi tidak terhadap serangan virus, yang bisa jauh lebih mematikan dan jauh lebih merusak secara ekonomi dan sosial," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal WHO, dalam sebuah pernyataan, Senin.
Ghebreyesus menambahkan bahwa kesehatan adalah investasi di masa depan.
WHO mendefinisikan perubahan iklim sebagai salah satu dari 13 tantangan yang akan dihadapi satu dekade ke depan.
Organisasi itu mencatat bahwa polusi udara setiap tahunnya membunuh sekitar 7 juta orang, sementara perubahan iklim menyebabkan banyak peristiwa cuaca ekstrem dan memicu penyebaran penyakit menular seperti malaria.
"Emisi yang sama yang menyebabkan pemanasan global bertanggung jawab atas lebih dari seperempat kematian akibat serangan jantung, stroke, kanker paru-paru dan penyakit pernapasan kronis," ujar Ghebreyesus.
Dia menekankan bahwa para pemimpin harus bekerja sama untuk mengatasi dampak kesehatan dari perubahan iklim.
"WHO akan berupaya mengembangkan seperangkat kebijakan bagi pemerintah untuk membendung atau mengurangi risiko kesehatan akibat polusi udara selama tahun ini," tambah pernyataan itu.
Selain perubahan iklim, tantangan kesehatan lain yang akan dihadapi satu dekade mendatang di antaranya: menyediakan kesehatan dalam konflik dan krisis, membuat perawatan kesehatan lebih adil, memperluas akses ke obat-obatan, menghentikan penyakit menular, mempersiapkan epidemi, melindungi orang dari produk berbahaya.
Selain itu, berinvestasi pada pihak yang memperjuangkan kesehatan, menjaga keamanan remaja, mendapatkan kepercayaan publik, memanfaatkan teknologi baru, melindungi obat-obatan, dan menjaga kebersihan perawatan kesehatan.