Chandni
22 Maret 2018•Update: 22 Maret 2018
Ovunc Kutlu
NEW YORK
Facebook tidak cepat mengurus masalah-masalah yang timbul selama pilpres AS 2016 terkait berita palsu dan dugaan campur tangan Rusia, kata pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg pada Rabu.
Beberapa jam setelah merilis sebuah pernyataan resmi mengenai kebocoran data terbesar dalam sejarah perusahaan tersebut, Zuckerberg melakukan wawancara ekslusif dengan CNN untuk membahas sejumlah isu.
"Masih banyak yang harus kami lakukan untuk memastikan negara-negara lain seperti Rusia tidak bisa ikut campur dalam pemilu kami, dan agar penghasut kesulitan menyebarkan berita bohong," kata Zuckerberg.
Komite Intelijen Senat pada Selasa memberikan sejumlah rekomendasi untuk meningkatkan keamanan sistem pemilu dari campur tangan asing, khususnya terhadap ancaman siber.
Walaupun Zuckerberg mengatakan dugaan keterlibatan Rusia sebuah "ide yang cukup gila" pada 2016 silam, dia menanggapinya dengan lebih serius dalam wawancara dengan CNN itu.
"Saya yakin akan ada jilid baru dari upaya Rusia pada 2016 lalu, saya yakin mereka sedang merencanakan itu. Dan mereka akan memiliki taktik-taktik baru yang harus kami antisipasi," ungkap Zuckerberg.
Dia mengatakan Facebook merilis sejumlah fitur untuk pemilu Prancis 2017 yang cukup sukses mendeteksi potensi campur tangan pihak luar.
"Kami harus mendahului mereka. Itu merupakan tanggung jawab kami," lanjutnya, ketika ditanya mengenai pemilu yang akan datang di AS, India dan Brazil.
Dalam pernyataan resminya, Zuckerberg mengaku bertanggung jawab atas kebocoran data sekitar 50 juta pengguna platform media sosial itu ke tangan perusahaan analisis data Cambridge Analytica. Diperkirakan data itu diolah untuk digunakan pada pemilu AS 2014 dan 2016, dan juga untuk Brexit.
"Itu merupakan pelanggaran kepercayaan dan saya minta maaf. Kami bertanggung jawab melindungi data pengguna," kata Zuckerberg.
Dia menjelaskan Facebook pertama mengetahui tentang insiden itu pada 2015 dan sudah meminta Cambridge Analytica agar menghapus semua data yang mereka peroleh. Namun, ternyata tindakan itu tidak dilakukan.
"Saya terbiasa percaya janji seseorang. Sekarang saya sadar itu merupakan sebuah kesalahan yang tidak boleh kami ulangi," sesalnya.
Zuckerberg juga mengatakan dia bersedia memberikan testimoni di hadapan Kongres AS mengenai kebocoran data itu.