İqbal Musyaffa
16 Juli 2018•Update: 17 Juli 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan sebanyak 633,2 ribu penduduk Indonesia sudah keluar dari garis kemiskinan pada Maret 2018.
Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, mengatakan jumlah penduduk miskin berkurang dari 26,58 juta orang (10,12 persen) pada September 2017 menjadi 25,95 juta orang (9,82 persen).
“Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2017 sebesar 7,26 persen, turun menjadi 7,02 persen pada Maret 2018,” ungkap Suhariyanto.
Selama periode September 2017–Maret 2018, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 128,2 ribu orang, dari 10,27 juta orang pada September 2017 menjadi 10,14 juta orang pada Maret 2018.
Sementara itu, Suhariyanto menambahkan, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan juga turun dari sebesar 13,47 persen pada September 2017 menjadi 13,20 persen pada Maret 2018.
Jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan turun sebanyak 505 ribu orang dari 16,31 juta orang pada September 2017 menjadi 15,81 juta orang pada Maret 2018.
Menurut Suhariyanto, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.
Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2018 tercatat sebesar 73,48 persen. Angka ini naik dibandingkan kondisi September 2017, yaitu sebesar 73,35 persen.
Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan jelas Suhariyanto adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, dan gula pasir.
Sedangkan komoditi nonmakanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.