Muhammad Latief
20 Oktober 2017•Update: 22 Oktober 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar mengungkapkan bahwa masa depan energi Indonesia bersumber dari Liquid Natural Gas (LNG). Pemerintah kini sedang mengkaji kebutuhan dan pasokan di masa depan.
“Teknologi Floating Storage Regasification Unit (FSRU) adalah kebutuhan untuk Indonesia,” ujarnya dalam pernyataan resminya, Jumat.
Arcanda juga mengungkapkan dalam beberapa tahun ke depan Indonesia masih banyak memiliki uncommitted cargo LNG atau LNG yang belum memperoleh pembeli.
Untuk itu, pihaknya sedang memperbaiki neraca gas tahun-tahun mendatang agar bisa memprediksi apakah Indonesia perlu mengimpor LNG atau cukup dengan pasokan dalam negeri.
PT Nusantara Regas diketahui sebagai anak perusahaan PT Pertamina yang sudah mampu mengelola FSRU sendiri. Saat ini, tenaga kerja di perusahaan tersebut 98 persen berasal dari Indonesia, sisanya dari luar negeri.
FSRU milik Nusantara Regas merupakan yang pertama di Asia Tenggara. Perusahaan ini juga mendukung pemenuhan kebutuhan gas nasional tidak hanya untuk sektor kelistrikan, namun juga untuk sektor industri.
Direktur Utama Nusantara Regas Tammy Meidharma mengatakan konsumen terbesar adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan berusaha memberikan pelayanan terbaik mendukung pencapaian proyek 35ribu Megawatt.
FSRU Nusantara Regas sejak dioperasikan pada 2012 tercatat mampu memasok gas sebesar maksimum 500 juta kaki kubik per hari (MMCFD). Gas ini dialirkan untuk tiga pembangkit listrik yaitu PJB Muara Karang, IP Tanjung Priuk dan PJB Muara Tawar.
Pasokan Gas FSRU didapat dari Kilang LNG Bontang dan Tangguh LNG dengan suhu minus 160 C yang dibawa dengan kapal LNG untuk kemudian disimpan dalam FSRU dan diregasifikasi dengan media propane sampai menjadi gas.
Pada 2017, Nusantara Regas memperkirakan penyaluran LNG hingga 28 kargo atau setara 225 BBTUD untuk memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik PLN di Teluk Jakarta dan industri di area Jawa bagian Barat.