İqbal Musyaffa
14 Maret 2018•Update: 15 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) belum tentu menaikkan suku bunga acuan, meskipun pada 22 Maret nanti bank sentral AS (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga.
Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan BI akan mengkaji terlebih dahulu kondisi ekonomi Indonesia dan global, pertumbuhan ekonomi, serta neraca pembayaran sebelum mengambil langkah untuk menyesuaikan suku bunga seven days repo rate.
“Kita juga akan mengkaji inflasi. Kalau bisa terjaga dan stabil, berarti ekonomi kita bisa lebih baik,” ungkap Agus di Jakarta, Selasa malam.
Meski, menurut dia, BI juga belum akan menurunkan suku bunga acuannya karena ruang untuk menurunkan suku bunga sangat kecil.
Terkait inflasi, BI masih optimis akan terjaga di kisaran 3,5 persen plus minus 1 persen sepanjang tahun ini.
Agus menambahkan, bila pemerintah melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tarif listrik, maka akan berdampak pada inflasi administrated price.
Namun, pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM subsidi dan tarif listrik meskipun harga minyak dunia naik melampaui asumsi APBN yang ditetapkan sebesar USD48 per barel.
“Kami sambut baik langkah pemerintah tersebut. Pemerintah akan berkoordinasi untuk melakukan penyesuaian kalau memang dibutuhkan,” imbuh Agus.
Menurut dia, pemerintah akan membahas kemungkinan menambah jumlah subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia. Namun, pembahasan baru akan dilakukan dalam APBNP di semester dua tahun ini.
Dengan begitu, maka inflasi dari administrated price atau komoditas dengan harga yang diatur pemerintah akan terjaga.
Namun, yang perlu diwaspadai menurut dia adalah inflasi dari harga bahan makanan dengan tingkat volatilitas tinggi.
“Kita terus berkoordinasi untuk menjaga inflasi volatilitas food di level 4-5 persen,” jelas Agus.