Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) menyebut perekonomian dunia pada tahun depan akan melandai ke level 3,7 persen dari perkiraan sekitar 3,73 persen pada tahun ini.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan melandainya perekonomian dunia salah satunya disebabkan oleh menurunnya pertumbuhan ekonomi AS pada tahun depan ke level 2,5 persen setelah tumbuh tinggi pada tahun ini hingga sebesar 3 persen.
Kemudian, ekonomi Eropa akan melandai dari 2 persen menjadi 1,9 persen dan ekonomi China juga akan melandai dari 6,6 persen ke 6,5 persen.
“Perkembangan tersebut mendorong volume perdagangan dan harga komoditas dunia yang tetap rendah,” ungkap Perry dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta, Selasa.
Kondisi ekonomi global tersebut menurut Perry, menjadi tantangan bagi upaya Indonesia untuk menjadikan ekspor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi nasional.
“Sementara itu, tekanan inflasi mulai tinggi di AS dan cenderung akan meningkat di Uni Eropa dan sejumlah negara lain,” lanjut Perry.
Selanjutnya, Perry menjelaskan kenaikan suku bunga bank sentral AS the Fed akan diikuti oleh normalisasi kebijakan moneter di Eropa dan sejumlah negara maju lainnya. Meningkatnya tekanan inflasi dan aktivitas ekonomi yang semakin kuat lanjut dia, telah menyebabkan stance kebijakan moneter AS yang semakin ketat.
Setelah menaikkan Fed-Fund Rate (FFR) yang akan sebanyak empat kali sebesar 100 basis point pada tahun ini, BI memperkirakan the Fed AS kemungkinan akan menaikkan lagi suku bunganya sebanyak tiga kali lagi sebesar 75 basis point pada 2019.
Perry mengatakan European Central Bank (ECB) yang mulai melakukan normalisasi kebijakan moneternya melalui pengurangan injeksi likuiditas ke pasar juga diprakirakan akan mulai memberikan sinyal arah kenaikan suku bunga pertengahan tahun 2019.
“Meskipun realisasi kenaikannya mungkin baru akan terjadi pada akhir 2019 atau awal 2020,” Perry menambahkan.
Arah kenaikan suku bunga di negara-negara maju tersebut jelas Perry, memberikan tantangan bagi bank-bank sentral Emerging Markets, termasuk Indonesia, dalam merumuskan respons kebijakan moneternya untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonominya dalam memitigasi dampak rambatan keuangan global.
Ketidakpastian di pasar keuangan global tambah Perry, juga mendorong tingginya premi risiko investasi ke negara Emerging Markets. Pada awal tahun 2018 Perry mengatakan dunia dikejutkan dengan munculnya ketegangan perdagangan yang dilancarkan Pemerintah AS terhadap sejumlah negara, termasuk Kanada, Meksiko, Uni Eropa, dan Tiongkok.
“Hingga kini perundingan perdagangan antara AS dan Tiongkok masih berlangsung, dan kemungkinan masih akan berlanjut pada tahun 2019,” Perry menegaskan.
Krisis ekonomi yang terjadi di Argentina dan hampir terjadi di Turki lanjut Perry, semakin memperburuk persepsi risiko di pasar keuangan global, termasuk sentimen negatif ke sejumlah negara Emerging Markets.
Tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global juga didorong oleh sejumlah risiko geopolitik, seperti keberlanjutan perundingan Brexit antara Inggris dan Uni Eropa, permasalahan ekonomi di Italia, dan sejumlah perkembangan politik lainnya, yang perlu terus dicermati.
Ketiga perkembangan global tersebut berdampak pada kuatnya mata uang dolar AS dan pembalikan modal asing dari negara Emerging Markets, termasuk Indonesia. Aliran modal asing ke Emerging Markets yang masuk pada 2017 sangat besar, mencapai USD101,16miliar turun tajam menjadi hanya sekitar USD6,54 miliar
“Demikian pula untuk Indonesia, aliran investasi portofolio yang pada tahun 2017 masuk sangat besar hingga USD24,7 miliar kemudian mendadak keluar hingga Juni 2018,” urai Perry.
Dengan langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia bersama Pemerintah, aliran portofolio asing saat ini menurut Perry, sudah berangsur-angsur kembali masuk menjadi sekitar USD7,6 miliar untuk keseluruhan 2018.
“Kondisi perekonomian global yang masih tidak menentu tersebut semakin mempertegas perlunya sinergi untuk memperkuat ketahanan dalam menghadapi dampak rambatan global sambil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam negeri,” lanjut dia.
news_share_descriptionsubscription_contact
