İqbal Musyaffa
20 Desember 2018•Update: 21 Desember 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) memprediksikan aliran modal asing akan kembali mengucur deras ke negara berkembang, termasuk Indonesia tahun depan.
Kondisi tersebut menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, berbeda dengan 2018 dimana pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS) sangat tinggi, adanya kenaikan US Treasury, dan kenaikan Fed Fund Rate sehingga menyedot aliran investasi global dari negara berkembang menuju negara maju, khususnya AS.
“Penguatan ekonomi AS tahun ini menarik aliran modal yang dulu diinvestasikan di emerging market menuju AS,” ujar Perry dalam konferensi pers, Kamis.
Akan tetapi, Perry mengatakan pada 2019 ada pergeseran karena ekonomi AS cenderung melandai sehingga prospek saham di AS tidak sekuat 2018.
Kemudian suku bunga Fed Fund Rate dan US Treasury Yield naik tidak setinggi perkiraan.
“Sehingga para investor global mulai merelokasi kembali sebagian portofolionya ke emerging market dan akan ada pergeseran lagi investasi ke emerging market,” imbuh Perry.
Indonesia menurut Perry, menjadi salah satu pilihan investor global untuk menanamkan dananya sejak Agustus dan makin mulai menguat pada Oktober dan November.
Pada November aliran modal asing yang masuk sebut Perry, sebesar USD7,6 miliar dalam bentuk pembelian SBN, saham, dan penerbitan obligasi korporasi di pasar global.
“Surplus neraca pembayaran akan kembali terlihat pada triwulan IV tahun ini,” ungkap dia.
Kemudian Perry melihat aliran modal asing akan lebih deras tahun depan sejalan dengan tren global.
Terlebih lagi, penanaman modal asing juga akan naik sejalan dengan kebijakan pemerintah merevisi Daftar Negatif Investasi (DNI) dan tax holiday.