Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Wakil Presiden Indonesia periode 2009-2014 Boediono mengatakan krisis ekonomi global bukan merupakan siklus sepuluh tahunan.
Menurut mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini, belum tentu pada 2018 akan kembali terjadi krisis global setelah sebelumnya telah terjadi pada tahun 2008 dan 1998.
“Saya tidak percaya siklus 10 tahunan. Lihat saja indikator ekonomi sekarang,” kata Boediono pada saat peluncuran buku Laporan Perekonomian Indonesia di Jakarta, Rabu
Kalaupun pada tahun ini nantinya terjadi krisis bukan karena faktor siklus, melainkan karena perilaku manusia yang menyebabkan krisis.
Krisis menurut dia juga bisa disebabkan karena faktor psikologis yang disebabkan oleh perkembangan opini di media sosial.
“Sosial media sekarang luar biasa karena bisa memengaruhi kebijakan dari bank sentral kita,” jelas Boediono .
Indonesia sudah mengalami krisis beberapa kali sejak kemerdekaan. Krisis besar periode 1960 terjadi saat Indonesia mengalami inflasi yang tinggi sekitar 650 persen pertahun.
“Tapi kita bisa mengatasinya. Banyak langkah yang dilkukan dari segi fiskal, moneter, reformasi struktural, dan perubahan politik. Ini krisis yang our making,” jelas dia.
Pada saat krisis tersebut, Indonesia menurut dia melepaskan kebijakan yang prudent dalam fiskal.
Pembiayaan proyek pada saat itu juga berasal dari pembiayaan yang tidak aman sehingga terjadi inflasi tinggi.
Krisis besar kedua yang dialami Indonesia pada periode 1980 yang menurut dia bukan karena kesalahan dari kebijakan internal, melainkan karena harga minyak turun sehingga mengacaukan fiskal dan moneter.
“Waktu itu kita mengandalkan uang dari minyak. Tahun 1986 harganya anjlok menjadi USD10 per barel. Ini adalah suatu proses krisis yang luar biasa cepat,” imbuh Boediono.
Belajar dari pengalaman tersebut, Indonesia menurut dia kemudian mulai mengurangi ketergantungan akan minyak dari sisi fiskal dan moneter. Langkah ini kemudian berhasil selama satu dasawarsa jelang 1996-1997.
Setelah itu, Boediono menambahkan, Indonesia benar-benar lepas dari ketergantungan minyak dari struktur ekonomi kita dengan banyaknya industri nonmigas yang tumbuh.
“Ini adalah contoh ketika kita melakukan suatu kebijakan secara berkelanjutan dan fokus, akhirnya kita bisa mengatasi masalah,” tekan Boediono.
Selanjutnya pada periode 1997-1998 Indonesia kembali mengalami krisis yang menurut dia sama sekali di luar dugaan.
World Bank menurut dia pada Juni 1997 mengatakan ekonomi Indonesia masih bagus.
“Ini krisis dari luar yang muncul dari capital account, yang kita andalkan untuk membiayai perekonomian kita, termasuk membiayai industri nonmigas dan perbankan kita,” lanjut dia.
“Saat itu saya terlibat sebagai anggota Dewan Gubernur BI. Ekonomi saat itu tidak bisa diterka arahnya,” kenang dia.
Dia menceritakan, Indonesia merupakan negara yang paling parah mengalami dampak krisis. Sistem pembayaran macet, Letter of Credit (LC) Indonesia tidak diakui dunia sehingga ekonomi runtuh.
“Kondisi diperparah dengan masalah politik yang menginginkan adanya reformasi,” tambah dia.
Krisis tersebut, Boediono melanjutkan, membuat Indonesia terpuruk selama enam tahun.
Baru kemudia pada tahun 2004 perekonomian mulai merangkak naik dari minus 13 persen pada tahun 1998 menjadi tumbuh 4 persen.
Tahun 2008 kembali terjadi krisis dengan skala yang lebih dari tahun 1998.
Namun, pada saat itu Indonesia menurut dia sudah belajar dari pengalaman sebelumnya sehingga krisis tidak berlangsung dalam waktu yang lama.
news_share_descriptionsubscription_contact
