İqbal Musyaffa
25 Oktober 2019•Update: 28 Oktober 2019
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan upaya dan langkah-langkah kebijakan ekonomi baik dari sisi fiskal maupun moneter baru akan terasa pada tahun depan.
Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, pertumbuhan ekonomi pada tahun depan akan menuju 5,3 persen sebagai hasil dari kegiatan ekonomi yang sekarang terus meningkat.
Peningkatan tersebut akibat dari kebijakan akomodatif BI dari sisi moneter, likuiditas, maupun makroprudensial yang longgar.
“Dari Kementerian Keuangan juga memberikan stimulus dari sisi pengeluaran,” kata Perry di Jakarta, Jumat.
Perry mengatakan Menteri Kauangan Sri Mulyani telah menyampaikan angka defisit APBN akan meningkat menjadi sekitar 2,2 persen dari PDB untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga belanja pemerintah terus ditingkatkan.
“(Sebenarnya) ada opsi lain (yakni) spending cut agar defisit lebih rendah, tapi Menkeu memiliki defisit sedikit meningkat karena pengeluaran terus didorong untuk bisa memberikan stimulus fiskal pada pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.
Selain itu, dia melihat kebijakan perpajakan saat ini juga pro-growth serta koordinasi dan komunikasi antara pemerintah dan bank sentral untuk mendorong pertumbuhan ekonomi semakin erat.
“Kami sependapat dengan Kemenkeu bahwa defisit masih terkendali rendah dan prinsip prudensial fiskal tetap dijaga,” lanjut Perry.
Dia juga menegaskan bahwa BI terus memperkuat sinergi dan koordinasi dengan pemerintah dalam upaya transformasi ekonomi khususnya dalam mendorong pariwisata dan digital ekonomi.
“Apalagi dengan kabinet baru kami terus berkoordinasi dengan mereka dan insya Allah akan semakin erat dan kuat untuk memberikan dorongan kinerja ekonomi kita lebih baik,” imbuh Perry.
Perry mengatakan proyeksi makro pada tahun depan adalah pertumbuhan ekonomi yang mengarah sebesar 5,3 persen, inflasi terkendali 3 plus minus 1 persen, serta defisit transaksi berjalan sebesar 2,5-3 persen.