Muhammad Nazarudin Latief
04 Maret 2019•Update: 04 Maret 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Daya saing Indonesia di antara negara-negara penyelenggara industri hulu migas makin membaik, ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (EDSM) Archandra Tahar, Senin.
Menurut Archandra dalam laporan Petroleum Economics and Policy Solution (PEPS) Global E&P Attractiveness Ranking yang dikeluarkan oleh IHS Markit, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-25 dari 131 negara.
Berdasarkan laporan yang sama, Indonesia juga menduduki peringkat terbaik apabila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Bila dibandingkan, Malaysia misalnya, pada 2017 menduduki peringkat ke-23, sekarang ini melorot ke posisi 35.
Begitu juga dengan laporan yang dikeluarkan oleh lembaga Wood Mackenzie, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki citra positif dalam pengembangan hulu migas.
“Pemerintah berusaha melakukan inovasi, baik teknologi maupun kebijakan agar iklim investasi migas di Indonesia dapat terus kompetitif,” ujar Archandra dalam siaran persnya.
Menurut Archandra sistem fiskal pengelolaan hulu migas yang diterapkan sekarang, yaitu grossplit mempunyai banyak keunggulan dibanding sistem cost recovery yang diterapkan sebelumnya.
Menurut Arcandra, gross split memiliki prinsip dasar certainty yaitu parameter pemberian insentif jelas dan terukur. Prinsip berikutnya adalah simplicity, tidak ada perdebatan mengenai biaya, dan pengadaan independen.
Berikutnya adalah prinsip efficiency yang mendorong industri migas untuk efisien sehingga mampu menghadapi gejolak harga minyak, ujar Archandra.
Dengan sistem ini, maka semua ditentukan di awal proses penambangan. Jika sebuah lapangan memiliki CO2 yang besar maka akan mendapatkan insentif, demikian juga jika lapangan tersebut berada di remote area.
Insentif juga akan diberikan jika harga minyak rendah, namun jika harga naik maka upemerintahlah yang akan mendapat insentif.
“Hal-hal ini sudah tertuang dalam 13 split dan kontrak persis diketahui kontraknya berapa yang akan didapatkan oleh mereka, ini adalah prinsip certainty," jelas Arcandra.
Tahun ini pemerintah menargetkan investasi hulu migas tahun ini sebesar USD14,79 miliar atau meningkat dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun lalu sebesar USD14,2 miliar.