Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Kinerja impor Indonesia pada bulan Juli ini tumbuh 34,96 persen bila dibandingkan dengan nilai impor pada bulan Juni lalu.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menjelaskan nilai impor pada bulan Juli mencapai USD15,51 miliar lebih besar dari impor Juni yang sebesar USD11,5 miliar.
“Peningkatan nilai impor ini karena pada Juni ada cuti bersama untuk Idul Fitri,” jelas dia, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Peningkatan impor Juli terjadi pada sektor migas sebesar 2,04 persen dari USD1,72 miliar pada Juni menjadi USD1,75 miliar pada Juli.
Sementara pada sektor nonmigas juga terjadi peningkatan signifikan sebesar 40,72 persen dari USD9,78 miliar pada Juni menjadi USD13,76 miliar pada Juli.
Suhariyanto menjelaskan impor Juli tahun ini justru melambat 15,21 persen bila dibandingkan dengan impor Juli tahun lalu yang sebesar USD18,3 miliar.
Dia menguraikan peningkatan impor Juli terjadi pada seluruh kelompok penggunaan barang secara bulanan, sementara secara tahunan justru melambat.
Impor kelompok barang konsumsi pada Juli sebesar USD1,46 miliar yang meningkat 42,15 persen dari bulan Juni, sementara bila dibandingkan Juli tahun lalu tumbuh negatif 14,49 persen.
“Beberapa komoditas yang naik impornya antara lain bawang putih dari China, AC mesin dari China, buah-buahan longan dari Thailand, impor buah pir dari China, dan frozen fresh meat dari China,” urai Suhariyanto.
Porsi impor barang konsumsi terhadap keseluruhan nilai impor menurut dia sangat kecil, hanya 9,43 persen.
Selanjutnya, impor bahan baku/penolong pada Juli senilai USD11,27 miliar meningkat 29,01 persen dari bulan Juni, namun turun 17,76 persen dari Juli tahun lalu.
“Peningkatan impor bahan baku/penolong ini dengan harapan bisa menggerakkan industri dalam negeri,” jelas Suhariyanto.
Dia mengatakan beberapa komoditas yang mengalami peningkatan impor pada kelompok ini antara lain telepon genggam dari China dan Hongkong, kemudian bungkil kedelai untuk pakan ternak dari Brazil dan Argentina, serta kapas dari Amerika Serikat dan Brazil.
Kemudian pada kelompok barang modal tercatat nilai impor sebesar USD2,78 miliar yang meningkat 60,73 persen dari bulan Juni, namun turun 3,52 persen dari Juli tahun lalu.
“Peningkatan impor barang modal diharapkan bisa menggerakkan pembentukan modal tetap bruto (PMTB),” kata dia.
Impor pada kelompok ini antara lain kompresor, mesin listrik, turbin, dan mesin-mesin lainnya yang dibutuhkan untuk produksi di Indonesia.
Porsi impor terbesar masih dikuasai oleh bahan baku/penolong sebesar 72,65 persen dari total impor Juli.
Dia menjelaskan barang-barang yang mengalami peningkatan impor pada Juli bila dibandingkan Juni antara lain mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar USD901,6 juta, mesin/peralatan listrik sebesar USD635,4 juta, dan besi baja sebesar USD419,7 juta.
Sementara untuk komoditas yang mengalami penurunan impor antara lain alumunium sebesar USD122 juta, perhiasan/permata sebesar USD60,6 juta, dan serealia sebesar USD36,8 juta.
Bila dilihat berdasarkan negara, Indonesia mengalami peningkatan impor bila dibandingkan bulan Juni antara lain dari China sebesar USD1,5 miliar, Jepang sebesar USD251,4 juta, dan Italia sebesar USD231,3 juta.
Selanjutnya, pada Juli Indonesia mengalami penurunan impor dari Australia sebesar USD31,5 juta, Finlandia sebesar USD23,9 juta, dan Ghana sebesar USD14,1 juta.
news_share_descriptionsubscription_contact

