Iqbal Musyaffa
06 Februari 2020•Update: 07 Februari 2020
JAKARTA
Indonesia telah kehilangan momentum pada triwulan IV untuk memacu pertumbuhan ekonomi pada 2019, demikian analisa Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rendah pada kuartal IV 2019 menandakan pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak mampu meningkatkan perekonomian.
Menurut dia, pertumbuhan triwulan IV 2019 hanya sebesar 4,97 persen, terendah sejak periode yang sama pada 2016 lalu dengan pertumbuhan sebesar 4,94 persen.
“Secara siklusnya, triwulan IV 2019 merupakan periode yang sering memberikan optimisme pada akselerasi perekonomian, karena ada hari raya Natal dan libur tahun baru untuk mendorong konsumsi domestik,” ujar Eko dalam diskusi di Jakarta, Kamis.
Eko mengatakan, pada setiap triwulan IV biasanya pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu berada di atas 5 persen.
Hanya lima kali pertumbuhan ekonomi triwulan IV berada di bawah 5 persen sejak tahun 2000, yakni pada tahun 2001, 2002, 2003, 2016, dan 2019.
Pada triwulan IV 2017 ekonomi mampu tumbuh 5,19 persen dan pada 2018 sebesar 5,18 persen.
“Turunnya pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2018 di bawah lima persen secara tahunan menggambarkan, persoalan ekonomi Indonesia semakin berat,” kata Eko.
Eko menambahkan optimisme pebisnis saat ini juga meredup ditandai turunnya indeks tendensi bisnis di Desember 2019 di posisi 104,82, setelah di September 105,33, dan Juni 108,81.
“Hadirnya kabinet baru yang telah bekerja sekitar dua bulan hingga akhir 2019, ternyata belum mampu membuat berbagai gebrakan yang dapat menyulut optimisme perekonomian,” tegas Eko.