Iqbal Musyaffa
29 Januari 2020•Update: 30 Januari 2020
JAKARTA
Kementerian Keuangan mengatakan ketidakpastian global yang terjadi sejak 2019 tidak memiliki pola yang pasti sehingga masih menjadi ancaman yang perlu diwaspadai pada 2020.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ketidakpastian global yang tidak berpola menimbulkan implikasi berganda (multiple implication).
“Ketidakpastian tak berpola menyebabkan orang tidak berani buat keputusan,” ujar Menteri Sri Mulyani di Jakarta.
Menurut dia, situasi konsumen dan produsen tanpa keputusan tersebut membuat ekonomi global stagnan sehingga tahun 2019 menjadi tahun dengan pertumbuhan ekonomi global terlemah dan juga perdagangan global yang juga terlemah dalam 10 tahun terakhir sejak 2008-2009.
Oleh karena itu, perlambatan tersebut membuat sekitar 70 negara melakukan kebijakan moneter berupa penurunan suku bunga untuk meresponnya.
“Kalau itu (kebijakan moneter) tidak dilakukan bank sentral seluruh dunia, maka outlook ekonomi global harusnya tumbuh hanya 2,4 persen saja dan secara teknis masuk ke resesi,” jelas dia.
Menteri Sri Mulyani mengatakan maksud resesi ekonomi global secara teknis adalah apabila pertumbuhan global berada di bawah 3 persen dari biasanya. Ekonomi global biasanya didorong oleh pertumbuhan negara berkembang di atas 3 persen dan negara maju di sekitar 3 persen.
“Kalau di bawah itu, berarti (pertumbuhan global) sangat lemah,” kata dia.
Menteri Sri Mulyani mengatakan Indonesia juga terpengaruh dinamika global dan domestik, namun masih mampu mencatatkan pertumbuhan yang baik walaupun mengalami ketidakpastian.
“Kita cukup tahan dengan pertumbuhan tetap di atas 5 persen, inflasi dikelola dalam level rendah sekitar 3 persen dalam jangka 5 tahun terakhir,” lanjut Menteri Sri Mulyani.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi pada 2019 juga dialami oleh India yang turun dari 7 persen menjadi 4,9 persen serta China juga melemah di bawah 6 persen.