JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua tahun ini mengalami kontraksi atau minus sebesar -5,32 persen secara tahunan dan kontraksi -4,19 persen pada kuartal kedua dibanding kuartal pertama.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku di kuartal kedua 2020 mencapai Rp3.687,7 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.589,6 triliun.
“Kalau kita lacak kembali pertumbuhan ekonomi secara kuartalan, maka kontraksi ini terendah sejak kuartal pertama 1999 yang saat itu mengalami kontraksi -6,13 persen,” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu.
Dia mengatakan pandemi Covid-19 telah membawa dampak yang sangat buruk dan menciptakan efek domino dari masalah kesehatan menjadi krisis sosial dan ekonomi yang menghantam seluruh lapisan masyarakat mulai dari rumah tangga hingga korporasi.
Suhariyanto mengatakan banyak kebijakan negara-negara yang pada intinya sama, selalu mengutamakan kesehatan untuk mencegah penyebaran virus dengan lockdown, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan lainnya serta berupaya agar denyut ekonomi tetap berjalan.
“Untuk menjaga keseimbangan ini tidak mudah dan banyak negara yang pada kuartal kedua 2020 mengalami kontraksi,” kata dia.
Suhariyanto mengatakan pada kuartal kedua ini terjadi penurunan harga komoditas migas dan pertambangan baik secara kuartalan ataupun tahunan.
“Minyak mentah Indonesia harganya jatuh 46,86 persen dari USD52,07 per barel pada kuartal pertama menjadi USD27,67 per barel pada kuartal kedua,” jelas dia.
Harga minyak mentah Indonesia juga turun lebih dalam sebesar 57,94 persen dari kuartal kedua tahun lalu.
Suhariyanto menambahkan bahwa ekonomi beberapa mitra dagang utama Indonesia juga mengalami kontraksi pada kuartal kedua ini, kecuali China yang mampu tumbuh 3,2 persen dari sebelumnya minus -6,8 persen pada kuartal pertama.
Kemudian Amerika Serikat yang merupakan pangsa ekspor terbesar kedua bagi Indonesia pada kuartal kedua mengalami kontraksi sangat dalam 9,5 persen setelah pada kuartal pertama masih tumbuh tipis 0,3 persen.
Singapura juga mengalami pertumbuhan negatif -12,6 persen di kuartal kedua, Korea Selatan juga terkontraksi -2,9 persen, Hongkong tumbuh negatif -9 persen, dan Uni Eropa kontraksi -14,4 persen.
Suhariyanto mengatakan catatan lain yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua adalah pergerakan inflasi pada kuartal kedua yang sebesar 0,32 persen secara kuartalan dan 1,96 persen secara tahunan yang relatif rendah kalau dibandingkan posisi sama tahun lalu dengan inflasi tahunan 3,28 persen pada Juni.
“Ada perlambatan inflasi di banyak negara dan mengarah pada deflasi karena lemahnya permintaan dan kendala pasokan,” urai Suhariyanto.
Selain itu, realisasi belanja APBN pada kuartal kedua tahun ini yang sebesar Rp616,54 triliun meningkat dibandingkan periode tahun lalu yang sebesar Rp582,64 triliun karena ada kenaikan realisasi belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah serta dana desa.
“Belanja pemerintah pusat naik karena bantuan sosial meningkat 55,87 persen dan belanja modal 0,39 persen,” imbuh dia.
Kemudian pada sektor penanaman modal di kuartal kedua yang sebesar Rp191,9 triliun turun 8,9 persen dari kuarta pertama dan turun 4,3 persen dari kuartal kedua tahun lalu.
Kemudian produksi mobil pada kuartal kedua hanya 41.520 unit turun 87,34 persen dari kuartal pertama dan juga turun 85,02 persen dari kuartal kedua tahun lalu.
Penjualan mobil pada kuartal kedua juga hanya 24.042 unit turun 89,85 persen dari kuartal pertama dan turun 89,44 persen dari tahun lalu.
Penjualan sepeda motor wholesale turun 80,06 persen dari kuartal lalu dan juga turun 79,7 persen dari tahun lalu menjadi 313.625 unit.
Selanjutnya, produksi semen pada kuartal kedua hanya 12,68 juta ton yang turun 18,8 persen dari kuartal lalu dan turun 9,08 persen dari tahun lalu.
Pengadaan semen juga hanya 12,65 juta ton turun 15,09 persen dari kuartal lalu dan turun 7,69 persen dari tahun lalu.
Suhariyanto menambahkan faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua adalah jumlah wisatawan mancanegara yang hanya 482,65 ribu pada kuartal kedua, atau turun 81,49 persen dari kuartal pertama dan turun 87,81 persen dari tahun lalu.
news_share_descriptionsubscription_contact

