Pizaro Gozali İdrus
06 Maret 2018•Update: 07 Maret 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Indonesia mematangkan kerja sama capacity building dengan Afghanistan untuk mendukung perekonomian dan proses perdamaian negara tersebut.
Persiapan ini dilakukan saat Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengunjungi Afghanistan pekan lalu.
“Ada permintaan khusus dari Afghanistan untuk capacity building di bidang pertambangan. Kita sudah sepakat untuk memberikan beasiswa pertambangan,” ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Jakarta, Selasa.
Selain itu, kata Menteri Retno, Afghanistan juga meminta capacity building pada bidang ekspor dan impor agar produk-produk mereka memiliki daya saing.
“Mereka meminta Indonesia untuk membantu empowering private sector-nya terutama ekspornya,” kata Menteri Retno.
Terkait pertemuan ulama tiga negara, Menteri Retno menyatakan hal tersebut murni inisiatif dari Afghanistan.
Menurut Retno, Afghanistan menilai Indonesia sebagai negara yang netral dan tidak memiliki kepentingan langsung baik politik maupun ekonomi.
“Semua pihak di Afghanistan menerima kontribusi Indonesia dalam proses perdamaian,” jelas Menteri Retno.
Sebelumnya, Indonesia dan Afghanistan telah berkomitmen untuk meningkatkan kemitraan dalam meningkatkan capacity building untuk menjaga perdamaian, sambil mendukung proses rekonsiliasi di Afghanistan.
Duta Besar Afghanistan untuk Indonesia Roya Rahmani mengatakan Afghanistan ingin belajar tentang standardisasi suatu produk agar bisa diekspor.
"Mereka minta kalau bisa scholarship dan capacity building itu diberikan kepada bisnis," ucap Dubes Roya saat bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Retno, Februari lalu.
Afghanistan meminta bantuan Indonesia untuk menjadi tuan rumah dialog antar ulama dari tiga negara, yakni Indonesia, Afghanistan dan Pakistan. Pertemuan akan berlangsung pada pertengahan Maret di Bogor, Jawa Barat, dan diharapkan juga akan dihadiri oleh ulama dari Taliban.