Dandy Koswaraputra
20 Maret 2018•Update: 20 Maret 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia bisa menjadi hub atau penghubung negara-negara kawasan Indo-pasifik, sebuah konsep yang menghubungkan negara-negara di Samudera Pasifik dan Hindia barat dan tengah secara ekonomi, sosial dan keamanan wilayah.
Kepala Badan Pengawas dan Pengkaji Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri Siswo Pramono mengatakan Indo-pasifik adalah kawasan ekonomi yang mempunyai total Gross Domestic Product (GDP) mencapai USD 43,5 triliun dan terus berkembang.
“Berkembang terus karena di Asia ini, rata-rata pertumbuhannya 5-10 persen. Makanya ekonomi dunia pada masa depan berpusat di kawasan Asia Timur,” ujar dia saat berbicara pada acara Diplomatic Forum, di Jakarta, Selasa.
Konsep ini, menurut Siswo, sebenarnya sudah sejak 2012 dipromosikan Indonesia sebagai poros alternatif. Presiden Jokowi, kemudian menggencarkan kampanye ini dengan mencanangkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Indonesia, menurut Siswo mengedepankan visi inklusifitas komunitas ini, yaitu dengan mengajak kekuatan-kekuatan utama dunia untuk bergabung. Di antaranya, ASEAN, Tiongkok, Rusia, Amerika, Korea Selatan, India, Australia dan Selandia Baru.
Menurut Siswo, kawasan juga mempunyai potensi konflik. Seperti Tiongkok sebagai kekuatan baru yang sedang berkembang pesat menghadapi kekuatan lama seperti Amerika Serikat yang semakin proteksionis.
Konflik kekuatan-kekuatan ini sebenarnya bisa didamaikan dengan mekanisme yang sudah ada seperti Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) atau Indian Ocean Rim Association (IORA).
“Kawasan Indo-pasifik Indo-pasifik ini lebih besar dari Uni Eropa. Sebanyak 55 persen GDP dunia ada di sini,” ujar dia.
Selain itu, kekuatan kawasan Indo-pasifik ini lebih kuat karena interdependensi ekonomi sudah sangat kental, sehingga tidak ada perang. Misalnya, 12 persen ekspor Indonesia dan Australia dikirim ke Tiongkok.
Di sisi lain, Tiongkok juga mengirimkan ekspor dalam jumlah besar ke kawasan ini, sehingga sangat menjaga stabilitas kawasan, karena tidak mau pasarnya terganggu.
Berbeda dengan kawasan Timur Tengah yang lebih minim ketergantungan ekonomi satu sama lain. Misalnya, Arab Saudi juga lebih banyak berdagangan Tiongkok dan negara lain ketimbang kawasan sendiri.
“Itu membuat mereka mudah terpicu perang karena tidak ada interdependensi ekonomi,” ujar dia.
Analis Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia (UI) Beginda Pakpahan mengatakan potensi konflik di kawasan ini adalah Laut China Selatan, kompetisi negara-negara besar, great Peninsula, kejahatan transnasional terorisme dan perompak di sekitar Indonesia dan Filipina.
Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Berly Martawardaya mengatakan, semakin banyak pendekatan dan forum di kawasan Indo-pasifik maka makin bagus untuk perkembangan kawasan.
Di kawasan ini sudah ada APEC, IORA dan yang masih dalam tahap negosiasi adalah Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).