Muhammad Nazarudin Latief
10 November 2017•Update: 10 November 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Pertumbuhan ekspor Indonesia masih didominasi produk-produk berbasis sumber daya alam dan rendah nilai tambahnya. Seharusnya, untuk keluar dari jebakan negara middle income, Indonesia harus mulai mengekspor produk-produk hasil industri teknologi tinggi.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) soal pertumbuhan ekspor komoditas pertambangan sebesar 34,7 persen, lebih besar dibanding ekspor industri pengolahan yang hanya 14,51 persen.
Ekspor tersebut, menurut Eisha, ditopang oleh produk pertambangan, mineral, dan pertanian. Seharusnya Indonesia sudah mempunyai produk dengan nilai tambah yang tinggi.
BPS mencatat hingga September 2017, ekspor mesin dan peralatan listrik tumbuh 4,95 persen, dengan share 5,6 persen dari ekspor non migas.
Pertumbuhan ekspor produk kimia cukup tinggi yaitu 23,2 persen, namun kontribusinya hanya 2,4 persen dari ekspor non migas.
“Komoditasnya antara lain batu bara, kelapa sawit, dan biji kopi.”
Salah satu cara meningkatkan ekspor industri pengolahan, kata Eisha adalah mengajak pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dalam kegiatan ekspor dan jaringan produksi global.
Cara ini membawa keuntungan bagi UKM, antara lain karena ada transfer of knowledge dan peningkatan kemampuan karena permintaan dan standar yang tinggi.
Persoalan lain yang dihadapi adalah tingginya ketergantungan industri dalam negeri pada bahan baku dan penolong impor. Pertumbuhan impor dari Januari-September 2017 mencapai 15,2 persen untuk bahan baku, dan 9,5 persen untuk bahan penolong (YoY).
Menurutnya, jika prosedur ekspor impor yang rumit belum dibenahi, perusahaan yang melakukan aktivitas ini akan terbebani biaya besar dan waktu yang lama.
Peneliti Indef lainnya, Ahmad Heri Firdaus mengatakan, secara umum kontribusi ekspor pada gross domestic product (GDP) baru 25 persen.
Ini jauh di bawah negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia yang kontribusi ekspornya sudah hampir mencapai 100 persen GDP. Kedua negara ini menggenjot GDP dengan mengusahakan pertumbuhan ekspor dengan nilai tambah yang tinggi.