Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah Indonesia masih akan terus menggunakan utang baik dalam negeri maupun luar negeri dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Utang akan terus dilakukan pemerintah, dengan catatan dikelola dengan baik dan dialokasikan pada sektor yang tepat.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Indonesia menghadapi paling tidak tiga tantangan yang harus segera diselesaikan, hingga membutuhkan utang sebagai salah satu instrument pembiayaannya. Yaitu, investasi di bidang pengembangan sumber daya manusia, pembangungan infrastruktur dan mengembangkan pasar keuangan.
“Tantangan Indonesia dengan penduduk besar, 257 juta jiwa dengan mayoritas adalah usia muda. Tantangannya investasi bidang SDM tidak bisa ditunda, harus sekarang. Kita tidak bisa tunda tua, setelah kita punya duit baru disekolahkan. Dari mulai bayi di perut, investasi harus sudah dilakukan,” katanya.
Jika dibandingkan dengan negara tetangga, indeks pembangunan manusia tau kualitas sumber daya manusia Indonesia cukup tertinggal. Karena itu, Human Development Indeks (HDI) Indonesia berada di bawah negara-negara lain, skornya masih 70, padahal negara tetangga sudah mencapai 73.
Dalam bidang infrastruktur, Indonesia sangat tertinggal. Dibanding dengan negara yang mempunyai pendapatan per kapita mirip saja, Indonesia berada di bawah rata-rata. Apalagi dibandingkan negara-negara yang lebih maju, seperti anggota G-20.
“Kita pada 2017, dengan kondisi ekonomi yang lebih stabil infrastruktur kita tertinggal. Urgensi infrastruktu itu sangat nyata, itu bukan karena hobby tapi itu karena kebutuhan,” ujarnya.
Demikian juga dalam pasar keuangan, termasuk instrumennya sangat dangkal. Hal ini bisa dilihat dari berbagai hal, seperti kapitalisasi pasar terhadap GDP lebih rendah dibanding negara lain. Kemudian dari sisi perbandingan utang pemerintah maupun swasta terhadap GDP juga lebih rendah dibanding negara lain.
“Sektor keuangan Indonesia tidak dalam dan belum cukup berkembang, sehingga perlu dikembangkan. Salah satu instrument yang penting adalah utang, yang bisa ikut membangun dan memperdalam sektor keuangan Indonesia,” ujarnya.
Hingga Juni 2017, posisi utang pemerintah sebesar Rp 3.706 triliun. Utang tersebut terakumulasi sebesar Rp 1.097,74 triliun jika disbanding dengan akhir Mei 2014 sebesar Rp2.8608,78 triliun. Tambahan utang ini, menurut Sri Mulyani digunakan untuk belaja infrastruktur, kesehatan, pendidikan, jaminan social, serta alokasi dana desa.
news_share_descriptionsubscription_contact



