Muhammad Nazarudin Latief
30 April 2019•Update: 02 Mei 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Perusahaan Listrik Negara (PLN) memastikan sejak 2018 Indonesia tidak lagi mengalami defisit pasokan listrik setelah pemerintah menggenjot pembangunan pembangkit 35.000 megawatt (mw),
“Pada 2015 masih ada 11 sistem kelistrikan Indonesia yang defisit,” ujar Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah dalam siaran pers, Selasa.
Saat ini Indonesia memiliki 38 sistem kelistrikan besar dan sistem-sistem kecil yang mengelilinginya.
Sistem tenaga listrik umumnya mempunyai tiga fungsi utama yakni pembangkit, transmisi dan distribusi, ujar Dwi Surya.
Menurut Dwi Surya, prioritas utama sistem tenaga listrik adalah kecukupan kebutuhan daya listrik di suatu kawasan, selain itu harus mempunyai cadangan daya listrik yang cukup.
“Indonesia kini mempunyai reserve margin atau cadangan daya hingga 30%," kata dia.
Menurut dia, cadangan daya tidak hanya digunakan saat pembangkit dalam perawatan rutin, namun dapat mendorong investasi di sektor industri manufaktur.
Pengembangan sistem dan infrastruktur kelistrikan ini untuk mempercepat realisasi rasio elektrifikasi 99,9 persen pada akhir 2019, kata Dwi Surya.
Hingga 1 April 2019, rasio elektrifikasi sudah mencapai 98,5 persen dengan 72,8 juta pelanggan.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agung Pribadi mengatakan pemerintah terus mendorong penyediaan listrik hingga ke pelosok melalui berbagai programnya.
“Selain andal, yang lebih penting harganya terjangkau," ujar dia.
Menurut Agung kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan menjadi tantangan utama dalam upaya penyediaan akses listrik ke seluruh pelosok negeri, selain faktor keekonomian.