Muhammad Nazarudin Latief
30 November 2017•Update: 30 November 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Penelitian-penelitian di Indonesia menunjukan bahwa peluang penggunaan energi berkelanjutan mempunyai potensi yang tinggi, bahkan bisa mememuhi kebutuhan konsumsi listrik nasional.
Penelitian Ami Raisya Syanalia di Bali misalnya menunjukan, bahwa penggunaan tenaga surya di tempat tersebut tidak hanya menarik turis, tapi juga bisa memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Potensinya mencapai 32-35 terra watts hours (TWh) per tahun.
Angka ini berarti minimal tiga kali lipat dari suplai pembangkit listrik konvensional yang pada 2024 diperkirakan hanya menghasilkan energi sebesar 10 TWh.
“Energi ini juga mengurangi emisi karbon, sehingga menunjang pariwisata di Bali,” ujar Ami dalam Konferensi Energi Internasional, di Jakarta, Kamis.
Amy melakukan penelitian bertema energi untuk gelar masternya di Universitas College London.
Dia termasuk peneliti yang hadir dalam konferensi energi yang digelar oleh Purnomo Yusgiantoro Centre (PYC). Konferensi ini bertujuan mengumpulkan berbagai penelitian tentang energi di Indonesia.
Sementara itu di Nusa Tenggara Timur (NTT), penelitian Jannata Giwangkara dan Bart Van Campen membuktikan bahwa kinerja pembangkit energi tenaga surya lebih tinggi daripada tenaga diesel. Mereka membandingkan tiga pembangkit di NTT, yaitu diesel, surya dan kincir angin serta satu pembangkit hybrid, yang menggabungkan ketiga sumber energi tersebut.
“Dengan simulasi, ditemukan dalam berbagai scenario beban, energi terbarukan menjadi solusi paling kompetitif.”
Studi lain mengungkapkan peluang energi alternatif dari sampah pisang atau sisa-sisa kelapa.
Ada juga studi yang membandingkan aspek keekonomian produksi gas beserta industri yang menyertainya dan pengaruhnya pada pembangunan di suatu wilayah. Hasilnya menyatakan bahwa, efek positif terbesar diberikan oleh industri yang menyediakan listrik.
Pendiri PYC, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan Indonesia menghadapi tantangan ketersediaan energi, implikasi sistem energi pada lingkungan dan kemiskinan yang memengarui konsumsi energi.
Sebagai negara kepulauan dengan beragam kondisi alam di setiap daerah, menurut Menteri ESDM periode 2000-2009 ini, pemenuhan energi lebih efektif dan efisien jika dilakukan secara lokal, sesuai potensi setempat.
“Lebih murah dan inklusif. Bisa dibangun dan dikelola oleh masyarakat setempat,” ujarnya.
Indonesia, menurutnya selain harus dapat memenuhi kebutuhan energi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi juga harus menggunakan energi yang berkelanjutan.