İqbal Musyaffa
20 November 2019•Update: 21 November 2019
JAKARTA
Indonesia mempertegas komitmennya untuk dapat meningkatkan nilai perdagangan dengan Amerika Serikat hingga dua kali lipat dalam masa pemerintahan periode kedua Presiden Joko Widodo.
Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian Rizal Affandi Lukman mengatakan saat ini nilai perdagangan kedua negara berada di kisaran USD30 miliar atau setara Rp420 triliun dan akan meningkat secara bertahap hingga 2024 menjadi USD60 miliar atau sekitar Rp840 triliun.
“Indonesia dan Amerika Serikat mempunyai rencana meningkatkan nilai perdagangan kita dalam lima tahun ke depan,” ujar Rizal dalam diskusi Indonesia Economic Forum di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, komitmen tersebut disepakati kedua negara saat Indonesia mengunjungi AS untuk misi dagang pada tahun lalu sebagai upaya untuk mencegah AS mencabut fasilitas generalized system of preferences atau GSP yang selama ini diberikan kepada Indonesia.
Kemudian, Menteri Perdagangan Amerika Serikat Wilbur Ross saat berkunjung ke Jakarta pada awal November lalu menyampaikan komitmen bahwa AS tidak akan mencabut fasilitas GSP untuk Indonesia serta sepakat untuk meningkatkan nilai perdagangan kedua negara.
“Jadi jangan liat hanya GSP-nya yang nilainya katakanlah USD2 jutaan. Tetapi opportunity lainnya banyak kesempatan yang bisa kita lakukan dengan AS, kesempatan untuk menyuplai produk-produk Indonesia yang lainnya,” jelas Rizal.
Rizal menjelaskan komoditas utama yang dapat menambah nilai perdagangan kedua negara antara lain produk tekstil dan furnitur.
Sementara itu, produk AS yang menjadi andalan antara lain bahan baku untuk produk tekstil atau garmen seperti katun.
Menurut dia, produk-produk tersebut akan diberi akses khusus untuk masuk ke masing-masing negara.
“Kita masih mengimpor katun bahan baku dari AS untuk dipakai industri kita yang kita re-ekspor lagi ke AS. Jadi kita win-win,” ungkap Rizal.