Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia mulai mencatatkan surplus perdagangan pada Maret lalu, setelah dua bulan sebelumnya selalu defisit.
Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, Maret ini Indonesia mencatatkan surplus USD 1,091 miliar. Sementara pada Januari neraca perdagangan defisit USD 756 juta dan Februari defisit USD52,9 juta.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan di Jakarta, Senin, nilai ekspor Indonesia pada Maret mencapai USD15,58 miliar atau naik 10,24 persen dari ekspor di Februari. Sementara bila dibandingkan Maret tahun lalu, peningkatan ekspor mencapai 6,14 persen.
BPS mencatat ekspor nonmigas pada Maret sebesar USD 14,24 miliar, naik 11,77 persen dari Februari dan naik 8,16 persen dari Maret tahun lalu.
“Secara kumulatif, nilai ekspor sepanjang kuartal pertama Januari-Maret mencapai USD 44,27 miliar, naik 8,78 persen dari periode yang sama tahun 2017, sedangkan ekspor nonmigas mencapai USD 40,21 miliar atau meningkat 9,53 persen,” urai Suhariyanto.
Dia menjelaskan, peningkatan ekspor nonmigas terbesar tercatat oleh bahan mineral sebesar USD 358,9 juta atau 18,58 persen dari Februari. Sedangkan penurunan terbesar berasal dari timah sebesar USD 92,5 juta atau 45,25 persen.
Kemudian menurut sektor, Suhariyanto mengatakan ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Maret 2018 naik 4,6 persen dibanding periode yang sama tahun 2017.
Ekspor hasil tambang dan lainnya juga tercatat naik 41,48 persen, sementara ekspor hasil pertanian turun 9,32 persen.
“Ekspor nonmigas terbesar Maret 2018 adalah ke Tiongkok, yaitu USD 2,36 miliar, disusul Amerika Serikat USD 1,59 miliar dan Jepang USD 1,43 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 37,78 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar USD 1,53 miliar,” ungkap Suhariyanto.
Selanjutnya, Suhariyanto menjelaskan impor Indonesia pada Maret 2018 mencapai USD 14,49 miliar atau naik 2,13 persen dibanding Februari 2018, demikian pula jika dibandingkan Maret 2017 meningkat 9,07 persen.
“Impor nonmigas Maret 2018 mencapai USD 12,23 miliar atau naik 2,3 persen dibanding Februari 2018, sementara jika dibanding Maret 2017 meningkat 11,08 persen,” lanjut dia.
Impor migas Maret 2018, lanjut Suhariyanto, mencapai USD 2,26 miliar atau naik 1,24 persen dibanding Februari 2018, namun turun 0,64 persen dibanding Maret 2017.
Peningkatan impor nonmigas terbesar dibanding Februari 2018 berasal dari golongan mesin dan pesawat mekanik sebesar USD 286,9 juta atau 14,84 persen, sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin dan peralatan listrik sebesar USD 153,1 juta atau 9,19 persen.
Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Maret 2018, ujar dia, adalah Tiongkok dengan nilai USD 10,16 miliar atau 27,30 persen. Kemudian Jepang USD 4,33 miliar (11,64 persen), dan Thailand USD 2,57 miliar (6,89 persen).
Nilai impor semua golongan penggunaan barang, ujar Suhariyanto, yaitu barang konsumsi naik 22,08 persen selama Januari–Maret 2018.
Kemudian impor bahan baku atau penolong naik 18,35 persen di kuartal pertama, dan barang modal tumbuh 27,72 persen.