Iqbal Musyaffa
12 Oktober 2017•Update: 13 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia dan Turki akan memulai perundingan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada November mendatang. Hal ini disepakati seusai pertemuan antara Deputi Perdana Menteri Turki Fikri Isik dengan Menteri Perdagangan Indonesia Enggartiasto Lukita, Kamis.
Pertemuan tersebut dalam rangka penandatanganan Join Commission for Economic and Technical Cooperation Indonesia-Turki ke-8.
“Kita ingin mempercepat perundingan ini sesuai dengan komitmen Presiden Joko Widodo ketika mengunjungi Turki, Juli lalu,” ujar Menteri Enggar.
Kepada Anadolu Agency, Menteri Enggar mengatakan seharusnya pertemuan untuk membahas kerangka kerja sama ini sudah terjadi delapan tahun yang lalu, namun baru kali ini bisa diagendakan.
“Pada tahap awal perundingan, kita mau membentuk PTA [Preferential Trade Agreement] dulu. Turki pun setuju,” ungkap dia.
Dalam perundingan awal nanti, Menteri Enggar mengatakan akan memprioritaskan penyelesaian tahap awal Trade in Goods Agreement.
Setelah itu, tidak menutup kemungkinan kerja sama perdagangan bilateral kedua negara akan berlaku menyeluruh dalam bentuk Free Trade Agreement, mengingat besarnya potensi kerja sama perdagangan kedua negara.
“Kalau langsung FTA akan memakan waktu perundingan yang lama, makanya kita mulai dari CEPA dulu,” tambah dia.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Perdana Menteri Turki Fikri Isik mengatakan kedua negara sedang fokus untuk melakukan diversifikasi hubungan komersial Turki dan Indonesia.
“Peta jalan dibuat untuk mencapai target perdagangan sebesar USD10 miliar pada tahun 2023 mendatang, seperti yang disepakati pemimpin kedua negara,” ujar Isik.
Isik mengatakan, volume perdagangan bilateral Indonesia-Turki tahun lalu hanya USD1,7 miliar, turun 9 persen dari tahun sebelumnya. Volume perdagangan ini yang menurutnya akan terus ditingkatkan oleh kedua negara.
“Salah satu instrumen substansial untuk memperbaiki perdagangan bilateral dan hubungan ekonomi kedua negara adalah melalui penandatanganan perjanjian CEPA,” jelas Isik.
Isik menambahkan, Turki bersedia membahas perjanjian investasi bilateral baru kedua negara untuk mendorong investasi timbal balik yang lebih lanjut.