Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menjadi mitra dagang terbesar Indonesia, meski dari hubungan perdagangan kedua negara, Indonesia masih membukukan defisit.
Data Kementerian Perdagangan menyebut sepanjang tahun 2017 kedua negara membukukan total perdagangan USD58,81 miliar.
Namun Indonesia masih mengalami defisit perdagangan sebesar USD12,71 miliar karena hanya mengekspor produk dengan total USD23,04 miliar, sementara impor asal Negeri Tirai Bambu tersebut sebesar USD35,76 miliar.
Besarnya defisit ini membuat kedatangan Perdana Menteri RRT Li Keqiang ke Indonesia, Senin kemarin, hendak dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai momentum untuk semakin menekan besaran defisit dagang.
Defisit dagang pada 2017 ini sebenarnya sudah lebih baik dari defisit yang terjadi pada 2016 yakni sebesar USD14 miliar dan tahun 2015 sebesar USD14,3 miliar.
Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam acara Indonesia-China Business Summit di Jakarta, Senin, berharap dapat terjadi keseimbangan dalam neraca perdagangan kedua negara dengan meningkatkan perdagangan dua arah.
“Indonesia berharap ada peningkatan impor Tiongkok atas produk unggulan Indonesia seperti CPO [Crude Palm Oil], biodiesel, kopi, buah-buahan tropis, alas kaki, dan produk perhiasan,” ujar Wapres Kalla.
Wakil Presiden juga mendorong peningkatan investasi Tiongkok khususnya pada sektor industri manufaktur, pengolahan energi ramah lingkungan, e-commerce, dan infrastruktur.
“Peningkatan investasi harus menekankan prioritas penggunaan tenaga kerja Indonesia agar bisa memberi nilai tambah bagi hulu dan hilir serta memastikan kualitas produk serta alih teknologi,” tekan dia.
Pada sektor pariwisata, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga mendorong agar terus terjadi peningkatan kunjungan wisatawan asal Tiongkok dari tiga juta orang pada tahun ini menjadi lima juta orang hingga 2020.
“Indonesia mengundang wisatawan Tiongkok untuk mengunjungi 10 Bali Baru dengan mendorong peningkatan jumlah penerbangan langsung antar kota-kota kedua negara,” tambah dia.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan kepada Anadolu Agency pada kesempatan yang sama bahwa kementeriannya menargetkan peningkatan lebih dari 10 persen nilai perdagangan dengan Tiongkok tahun ini.
“Produk ekspor yang kita dorong selain CPO adalah alas kaki, batu bara, dan pertanian,” ucap Menteri Enggar.
Dia mengatakan kebijakan Indonesia yang sempat menghambat masuknya jeruk mandarin telah membuahkan hasil karena Tiongkok semakin membuka diri untuk masuknya produk holtikultura Indonesia.
“Manggis, pisang, dan salak sudah mulai masuk. Untuk sarang burung walet bahkan peningkatan ekspornya besar mencapai USD100 juta dolar,” ungkap dia.
Meski begitu, Menteri Enggar mengatakan masih ada beberapa potensi ekspor yang terus diupayakan, seperti nanas, untuk bisa masuk ke pasar Tiongkok.
Dorong kemitraan dengan pengusaha menengah
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Reoslani mengatakan terus mendorong pengusaha Tiongkok yang ingin masuk agar mencari mitra melalui Kadin.
“Kadin akan mendorong pengusaha menengah sebagai mitra bisnis pengusaha Tiongkok agar bisa naik kelas,” tambah Rosan.
Salah satu upaya, menurut dia, adalah dengan membentuk tim satuan tugas (satgas) khusus bekerja sama dengan China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT).
“Kita akan terus melihat sektor apa lagi yang bisa ditingkatkan. Satgas akan mengidentifikasi untuk kemudian bisa diimplementasikan,” ujar Rosan.
Beberapa produk yang akan terus digenjot adalah kelapa sawit dan hortikultura. Selain itu, Rosan menjelaskan bahwa Indonesia juga mendorong peningkatan investasi Tiongkok pada sektor e-commerce, manufaktur, serta infrastruktur di wilayah Timur Indonesia.
Tiongkok siap impor lebih banyak dari Indonesia
Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang di hadapan para pengusaha Indonesia menegaskan kesiapannya untuk bisa membeli lebih banyak produk Indonesia.
“Kita ingin tingkatkan perdagangan kedua negara karena masih banyak potensi untuk ditingkatkan. Kami ingin beli lebih banyak dari Indonesia untuk dijual di pasar kami,” tegas dia
Li Keqiang juga memahami bahwa Indonesia berharap Tiongkok dapat menyerap lebih banyak buah-buah tropis dan CPO asal Indonesia. Dan dia mengaku siap untuk melakukannya.
“Di antara pebisnis dan pemimpin kedua negara ada konsensus bersama bahwa ada kepentingan yang sama antar kedua negara untuk saling membantu dan bisa menikmati pasar domestik keduanya dan kesamaan ekonomi,” tambah dia.
Li Keqiang juga menyatakan kesiapannya untuk menambah pembelian produk CPO hingga 500 ribu ton dari total saat ini sekitar 2 juta ton. Dia juga siap untuk membantu petani sawit Indonesia dalam melakukan pengelolaan hasil sawit.
PM Tiongkok juga menyatakan bahwa negaranya tertarik untuk berinvestasi, khususnya pada sektor infrastruktur dan logistik di empat koridor wilayah yang dikembangkan Indonesia antara lain Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Bali.
Kembangkan produk dan makanan halal
Li Keqiang juga mengatakan sedang mengembangkan produk dan makanan halal bekerja sama dengan negara-negara Arab untuk menentukan indikator kehalalannya.
Oleh karena itu, dia berharap agar produk makanan halal Tiongkok bisa diterima di pasar Indonesia. Di sisi lain, dia juga siap untuk menerima impor produk dan makanan hala asal Indonesia.
“Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim dan kita juga punya banyak penduduk Muslim sehingga kerja sama ini bisa dikembangkan,” tambah dia.
Selain itu, Tiongkok juga siap memberikan lebih banyak beasiswa dan pertukaran pelajar untuk masyarakat Indonesia sehingga bisa semakin mempererat hubungan kedua negara.
news_share_descriptionsubscription_contact

