İqbal Musyaffa
08 Mei 2018•Update: 08 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus merosot dan nilai tukar rupiah yang semakin tergerus bukan semata hanya karena faktor eksternal akibat perbaikan ekonomi Amerika Serikat, kata ekonom.
Senior Vice President Intermediary Business Schroders Adrian Maulana mengatakan kepada Anadolu Agency melalui telepon, Selasa, faktor domestik lebih banyak berperan pada kondisi ekonomi yang terus melemah, meskipun secara fundamental ekonomi masih baik.
Dia mengatakan daya beli memang mulai membaik, meskipun hanya meningkat 0,01 persen menjadi 4,94 persen di triwulan I-2018 dengan pertumbuhan ekonomi 5,06 persen. Kondisi ini, sebut Adrian, berpotensi terus mengalami perbaikan dengan berbagai event besar yang akan terjadi pada tahun ini.
“Secara fundamental memang tidak ada apa-apa. Tapi yang memicu market seperti ini, lebih karena ketidaktegasan pemerintah untuk memberikan satu stance yang tegas kepada pasar,” ungkap Adrian.
Pada saat IHSG merosot akibat banyaknya dana asing yang keluar di tengah geliat perbaikan ekonomi dunia, sebut dia, Bank Indonesia (BI) sudah seharusnya turut menaikkan suku bunga.
Secara year to date, IHSG terus merosot hingga kisaran 9 persen dan pada pembukaan hari ini berada pada level 5.862,78 sementara nilai tukar rupiah kini telah menembus level Rp14 ribu per dolar AS.
“Belum naiknya suku bunga membuat investor memandang Indonesia tidak lagi menarik,” tambah dia.
Pemerintah, menurut Adrian, terlihat masih menahan untuk menaikkan suku bunga karena ingin mendorong tingkat konsumsi yang masih rendah.
“Apabila suku bunga dinaikkan, pemerintah mungkin khawatir konsumsi akan tertahan,” lanjut Adrian.
Pada kenyataannya, sebut Adrian, meski suku bunga rendah, tingkat konsumsi juga masih stagnan di bawah lima persen.
"Suku bunga rendah juga tidak membuat masyarakat bergairah untuk belanja,” ujar dia.
Faktor pemilu, menurut Adrian, sebenarnya bukan menjadi kendala karena Indonesia sudah berkali-kali menghadapi pesta politik ini dengan damai. Akan tetapi, kondisi pasar unik karena adanya kondisi "animal spirit".
Investor di pasar, menurut dia, sering membuat keputusan yang tidak rasional karena ikut-ikutan dan panik.
“Saat ada gejolak dan investor besar kabur, investor lainnya panik dan ikutan jual sehingga harga IHSG terus jatuh sehingga membuat rupiah juga terus tertekan,” tambah dia.
Kebijakan suku bunga Indonesia yang masih rendah, menurut dia, tidak populis menurut pasar dan tidak dapat menenangkan pasar.
“Pasar butuh ada pernyataan konkrit BI dan pemerintah untuk menenangkan pasar yang bergejolak,” tekan dia.
Kebijakan populis lain yang menurut Adrian tidak disukai pasar terkait keinginan pemerintah untuk mengatur harga BBM nonsubsidi di tengah harga minyak dunia yang terus melonjak.
Kebijakan tersebut, bagi dia, tidak positif di mata investor karena akan membuat margin perusahaan migas tertekan.
“Karena tidak menaikkan harga BBM, bisnis Pertamina bisa terganggu sehingga harus menerbitkan surat utang,” ucap Adrian.
Surat utang BUMN pun dianggap S&P Global Rating mulai mengkhawatirkan dan berisiko. “Investor asing mulai khawatir dengan utang BUMN,” ungkap dia.
Intervensi pemerintah untuk menurunkan tarif tol bagi kendaraan logistik dan menetapkan harga eceran tertinggi untuk beberapa komponen pangan membuat investor kecewa karena mengubah penghitungan margin dan waktu balik modal (break event point) dari hasil investasinya.
“Kita harap pemerintah harus membuat pernyataan tegas terkait depresiasi rupiah yang terasa, serta berupaya membatasi arus asing yang keluar dari Indonesia dengan menaikkan suku bunga,” tukas Adrian.