İqbal Musyaffa
15 Agustus 2019•Update: 16 Agustus 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Neraca perdagangan Indonesia dengan China terlihat semakin menyedihkan dengan nilai defisit yang semakin membesar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada bulan Juli ini memang terjadi peningkatan ekspor nonmigas Indonesia ke China bila dibandingkan dengan bulan Juni sebesar USD469,7 juta.
Namun, impor Indonesia asal negeri Tirai Bambu tersebut pada Juli bila dibandingkan Juni justru meningkat sangat pesat sebesar USD1,5 miliar.
Indonesia masih banyak mengimpor barang seperti bawang putih, mesin AC, buah pir, daging beku, serta telepon seluler dari China.
Impor asal China juga memiliki porsi terbesar dari keseluruhan impor Indonesia sebesar 29,08 persen atau senilai USD24,73 miliar untuk periode Januari-Juli tahun ini.
Sementara ekspor nonmigas Indonesia ke China untuk periode Januari-Juli hanya USD13,68 miliar turun dari periode yang sama tahun lalu dengan nilai ekspor saat itu yang mencapai USD14,5 miliar.
“Ekspor ke China menjadi yang terbesar dari keseluruhan ekspor kita dengan porsi 15,53 persen,” jelas Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Pada triwulan I tahun ini defisit perdagangan yang Indonesia derita dari China mencapai USD5,18 miliar, membengkak dari nilai defisit periode yang sama tahun lalu sebesar USD3,82 miliar.
Kemudian pada triwulan II, nilai defisit Indonesia dari China sebesar USD4,05 miliar, sedikit membaik dari triwulan II 2018 yang sebesar USD4,43 miliar.
Untuk bulan Juli ini saja, Indonesia menderita defisit dengan China sebesar USD1,81 miliar, sedikit membaik dari defisit Juli tahun lalu sebesar USD2,07 miliar.
Suhariyanto menjelaskan sejak Januari-Juli tahun ini, Indonesia menderita defisit perdagangan yang sangat besar dari China dengan jumlah USD11,05 miliar.
Defisit perdagangan ini melebar dari periode yang sama tahun lalu dengan nilai defisit saat itu USD10,33 miliar.