Muhammad Nazarudin Latief
14 Februari 2018•Update: 15 Februari 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Nun jauh di Senegal, negara tepi Samudera Atlantik Utara, nama ibu kota Indonesia ternyata sangat familiar.
Masyarakat di ibu kota negara itu, Dakkar, setiap harinya menyebut dengan fasih nama kota yang terpaut ribuan kilometer dari mereka.
Jakarta, digunakan oleh warga Senegal untuk menyebut transportasi roda dua yang wira-wiri mengangkut penumpang.
“Ojek di sana namanya Motor-Djakarta,” ujar Duta Besar untuk Senegal Mansyur Pangeran, di Jakarta, Selasa.
Dubes Mansyur bercerita, ribuan Motor-Djakarta menjadi alat transportasi andalan di kota itu.
Pada era 80-90an, Indonesia memang pernah menjadi pengekspor motor terbesar di kawasan Afrika Barat, termasuk Senegal.
Ribuan motor bermerek Honda dan Yamaha yang dirakit di sekitar Jakarta, dikirim ke sana.
Tapi sayangnya, kata Dubes Mansyur, kota-kota di Senegal kini sudah dipenuhi oleh motor dari Tiongkok yang lebih murah.
Dubes Mansyur mengaku sering dipanggil oleh Menteri Transportasi Senegal, Abdoulaye Daouda Diallo untuk membicarakan masalah Motor-Djakarta ini.
Mereka ingin meniru pengelolaan ojek di Indonesia yang dipandang bisa memenuhi kebutuhan transportasi yang cepat dan efektif di kalangan masyarakat perkotaan.
Perilaku masyarakat Senegal dalam berkendara, kata Dubes Mansyur, masih terbelakang.
Meski ada aturan, tapi pemotor yang lalu lalang di Dakkar tidak ada yang menggenakan helm, masih mengenakan sandal jepit, dan membawa banyak barang berukuran besar.
Jakarta kini, sebut Dubes Mansyur, masih jauh lebih unggul karena layanan ojek sudah berbasis telepon pintar.
“Kalau di Senegal sepertinya masih jauh dari layanan ojek digital. Masih banyak yang ketinggalan,” ujar dia.
Dengan kondisi seperti itu, Dubes Mansyur menilai, potensi Senegal sebagai pasar non-tradisional produk-produk Indonesia masih terbuka lebar.
Sederet rencana pengembangan investasi dengan Indonesia
Senegal pun belum lama ini menyatakan tertarik untuk membeli pesawat dan kereta api buatan Indonesia.
PT Dirgantara Indonesia, beberapa waktu lalu sudah mengirim pesawat multiguna CN 235-220 M untuk Angkatan Udara Senegal.
Rencananya, negara ini akan kembali membeli dua pesawat dari Indonesia, jenis yang lebih kecil yaitu N-212-300.
Untuk kereta api, Senegal tertarik membeli gerbong-gerbong buatan PT Industri Kereta Api Indonesia (PT INKA).
“Ada juga peluang untuk BUMN kita mengembangkan pengeboran minyak lepas pantai,”ujar dia.
Potensi pengembangan pasar dan investasi juga terbuka lebar di negara Afrika lain, yaitu Nigeria.
Di tempat yang sama, Dubes untuk Nigeria dan Congo, Harry Purwanto, mengatakan saat ini Indonesia-Nigeria sedang menyelesaikan Preferential Trade Agreement untuk menurunkan bea dan tarif untuk sejumlah barang.
“Saat ini rata-rata antara 5-20 persen. Produk kita di sana kan banyak. Mulai dari farmasi, consumer good, alat musik, dan otomotif,” ujar dia.
Indonesia juga berusaha melakukan imbal dagang dengan menukar minyak bumi dengan produk lain, mengingat hampir 18 persen impor minyak Indonesia senilai hampir USD1,2 miliar berasal dari negara ini.
Kualitas minyak asal Nigeria dinilai pemerintah sangat bagus dan cocok dengan kilang-kilang minyak yang ada di Indonesia.
Imbal dagang, menurut Dubes Hary bisa dilakukan dengan menukar minyak bumi dengan kelapa sawit, komoditas yang sangat mereka butuhkan.
“Kebun kelapa sawit di sana banyak, tapi sudah tua-tua. Perlu replanting, mereka ingin kerja sama dengan pengusaha Indonesia,” ujar dia.