Muhammad Nazarudin Latief
21 Maret 2019•Update: 22 Maret 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Malaysia berjanji akan melakukan aksi retaliasi produk dari Uni Eropa (UE) jika kawasan ini tetap melakukan diskriminasi terhadap minyak kelapa sawit, kata kata Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad, Rabu.
“Ya, kami pikir kami akan berhenti membeli beberapa produk Eropa. Itu adalah satu hal yang bisa kita lakukan, ”ujar dia seperti ditulis oleh The Star.
Pada Selasa, Dr Mahathir mengatakan dia telah menulis surat kepada semua kepala pemerintah UE dan mengatakan bahwa Malaysia akan membalas jika mereka melanjutkan diskriminasi yang tidak adil terhadap minyak kelapa sawit ini.
Namun, Mahathir tidak mengungkapkan rencananya seandainya UE terus membatasi minyak sawit, dia hanya menyatakan “akan membuat ini diketahui kemudian.”
Malaysia dan Indonesia meradang setelah Uni Eropa telah mengeluarkan aturan Directive Act dalam Renewable Energy Directive yang menggolongkan kelapa sawit dalam kategori tanaman pangan risiko tinggi Indirect Land Usage Change.
Komisi Eropa menyimpulkan perkebunan kelapa sawit telah mengakibatkan deforestasi besar-besaran.
Hasil kajian Komisi Eropa menyatakan bahwa 45 persen ekspansi produksi CPO sejak 2008 telah berujung pada kehancuran hutan, lahan gambut (peatlands) dan lahan basah (wetlands) serta menghasilkan emisi gas rumah kaca secara terus-menerus.
Dengan demikian, Uni Eropa tidak akan lagi menggunakan sawit sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang ditargetkan digunakan di Eropa sebanyak 32 persen pada 2030.
Indonesia dan Malaysia adalah dua negara produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Keduanya berkontribusi pada 85 persen suplai komoditas tersebut di pasar global.
Indonesia juga mengungkapkan kemarahan yang sama. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan kebijakan tersebut sangat diskriminatif dan mengandung upaya proteksionisme terselubung untuk melindungi produk minyak nabati Eropa dari rapeseed serta bunga matahari.
Indonesia juga mempertimbangkan melakukan langkah retaliasi atau aksi balasan dengan memboikot produk Eropa.
“Kalau dia (Uni Eropa) bisa sepihak (memutuskan larangan sawit), masak kita tidak bisa lakukan sepihak (boikot produk Eropa),” ujar Menteri Darmin.