Muhammad Nazarudin Latief
16 Mei 2018•Update: 16 Mei 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meyakinkan negara-negara Eropa bahwa kelapa sawit sangat penting bagi Indonesia.
Menteri Luhut mengungkapkan hal tersebut saat memberikan pidato kunci pada seminar ‘Pemberantasan Kemiskinan Melalui Pertanian dan Perkebunan Demi Perdamaian dan Kemanusiaan’ di Roma, Italia, Selasa. Seminar ini diselenggarakan oleh Dicastery for Promoting Integral Human Development di bawah kepemimpinan Kardinal Peter Turkson.
Menurut Menteri Luhut, kelapa sawit adalah penyumbang pendapatan terbesar pada sektor pertanian Indonesia. Pada 2017, total ekspor sawit mencapai sekitar EUR15,5 miliar dengan total luas perkebunan kelapa sawit sekitar 11,26 juta hektare.
Sektor ini, kata Menteri Luhut, menyediakan 5,5 juta karyawan langsung dan 12 juta karyawan tidak langsung. Sekitar 17,5 juta orang saat ini bekerja di industri minyak sawit.
“Data ini memperlihatkan bahwa minyak sawit memiliki peran yang sangat signifikan dalam penciptaan lapangan kerja serta pengentasan petani Indonesia dari kemiskinan,” ujar dia dalam pernyataan pers.
Menurut Menteri Luhut, pemerintah menekankan bahwa industri kelapa sawit harus mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan sebagai elemen inti Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
Indonesia juga sudah menetapkan kebijakan dan kerangka peraturan untuk memastikan perlindungan lingkungan dan sosial yang diterapkan dalam produksi sumber daya alam Indonesia yang diekspor.
“Implementasi IUU Fishing dan perikanan berkelanjutan, moratorium deforestasi, dan restorasi lahan gambut telah dilaksanakan selama beberapa tahun terakhir.”
Kelapa sawit, menurut Menteri Luhut, adalah penyumbang deforestrasi paling kecil dibanding faktor lain di Indonesia, bahkan di tingkat global.
“Satu-satunya ancaman paling kritis terhadap deforestasi di tingkat global sebenarnya adalah peternakan sapi,” tukas dia.
Indonesia juga berusaha mengatasi deforestrasi dengan hasil yang menggembirakan. Pada 2014-2015 deforestasi dikurangi, yang mulanya seluas 1,09 juta hektare, pada 2015-2016 menjadi 0,63 juta hektare, pada 2016-2017 menjadi 0,47 juta hektare.
Kardinal Turkson mengatakan sektor pertanian termasuk perkebunan kelapa sawit bisa menjadi sektor usaha untuk menghapus kemiskinan. Dia mengungkapkan bahwa keseimbangan antara kegiatan ekonomi dan pengelolaan lingkungan harus tetap dijaga.